Oleh: Muhammad Ainun Nadjib
Tulisan ini saya bikin dengan mencuri waktu di sela-sela forum,
menyelinap beberapa momentum untuk bisa menulis. Kerja saya seperti
Setan: berupaya pandai menggali peluang untuk memasukkan partikel energi
dan nilainya ke pori-pori kejiwaan manusia.
Dan untuk manusia di
jaman ini, hal yang dilakukan Setan semacam itu bukan pekerjaan sulit,
karena manusia sudah hampir tidak memiliki pertahanan apapun terhadap
penetrasi Setan.
Juga karena manusia sudah semakin tidak
mengenali dirinya sendiri, apalagi mengenali Setan, sehingga tidak
pernah secara sadar atau instinktif mengetahui apakah ia sedang
dipengaruhi oleh Setan, apakah sedang berjalan didorong dan dimotivasi
oleh Setan, apakah ia sedang menyelenggarakan sesuatu yang pengambil
keputusan sebenarnya adalah Setan di dalam dirinya.
Tentu saja
Setan tidak bisa kita pandang dengan terminologi materi atau jasadiyah.
Ia lebih merupakan enerji, atau gelombang. Sedemikian rupa manusia harus
mempelajari dirinya sendiri: dari wujud materiilnya, psiche-nya, roh
atau rohaninya.
Kita sedang meyakini bahwa kita adalah manusia,
adalah makhluk sosial, adalah warganegara Indonesia, adalah bagian dari
masyarakat dunia, adalah kaum profesional, adalah Ulama, anggota
Parlemen, pejabat, aktivis Ornop, golongan intelektual atau apapun.
Tetapi itu semua adalah termin-termin yang sangat materiil, baku dan
elementer. Sesungguhnya kita tidak benar-benar mengenali diri kita pada
atau sebagai dimensi-dimensi yang lebih substansial.
Kita, pada
konteks tertentu, dan itu sangtat serius dan merupakan mainstream:
mungkin sekali adalah boneka-bonekanya Setan. Kita hanya robot yang
diremot oleh kehendak Setan. Kita hanya instrumen dari kemauan-kemauan
Setan.
Anda mungkin menganggap saya main-main retorika. Tidak.
Ini sungguh-sungguh. Jangan mengandalkan ilmu pengetahuan baku dari
sekolahan dan universitas, sebab penelitian-penelitian di wilayah itu
tidak akan sampai pada hipotesis, identifikasi atau invensi tentang
Tuhan, Malaikat, Iblis, Jin dlsb — yang sesungguhnya merupakan wujud
nyata sehari-hari kehidupan kita.
Kita sedang menghabiskan waktu
untuk bermain-main menunggu kematian tiba. Mainan kita namanya Negara,
demokrasi, Pemilu, clean governance, pengajian, tausiyah, mau’idhah
hasanah, band dan lagu-lagu, tayangan dan sinetron…. Semua itu tidak
benar-benar kita pahami bahwa bukanlah kita subyek utamanya.
Tentu ini semua harus sangat panjang ditelusuri, dianalisis, dipaparkan
dan disosialisasikan. Tulisan ini sekedar membukakan pintu agar manusia
mulai mempelajari Setan, sebagai salah satu metoda paling pragmatis dan
efektif untuk mengenali dirinya. Sebab hanya dengan benar-benar
mengenali dirinya maka manusia akan bisa berpartisipasi untuk turut
menjamin keselamatan dirinya, keluarganya, anak cucunya, lewat Negara,
sistem sosial atau apapun.
Anda semua semua sedang menjadi korban
tipu daya dari segala sesuatu yang Anda sangka kemajuan, kesejahteraan,
pembangunan, segala yang indah-indah di layar teve, di halaman koran,
di kantor-kantor pemerintahan dan perusahaan, bahkan di pasar, di
panggung, di gardu dan di manapun.
Tolong jangan membantah dulu
sebelum mempelajari Setan, dalam segala wilayah, konteks dan skala.
Pelajari setan untuk individumu, untuk keluargamu, untuk keselamatan
anak-anakmu tahun-tahun yang akan datang, untuk masyarakat dan bangsamu.
Tuhan bilang “Mereka melakukan tipu daya, dan Aku juga…. Aku kasih
waktu sejenak kepada mereka….”
Jatah untuk menyembuhkan diri bagi
bangsa kita sudah berlalu. Ramadlan dan Idul Fitri sudah kita lalui
tanpa makna apa-apa. Metabolisme zaman sudah tiba di putaran di mana
kita memerlukan jangka waktu yang akan jauh lebih lama lagi untuk bisa
menyembuhkan dan menyelamatkan kita semua sebagai bangsa. Segala sesuatu
sudah kita jalani, kita junjung, tanpa melahirkan paradigma baru apapun
di bidang apapun. Indonesia sudah “mati”. Tahun 2008-2015 akan semakin
terpecah, semakin tertipu daya, semakin lapar dan panas, semakin stress
dan deppressed, karena kita sendiri sudah terbiasa menipu daya diri kita
sendiri.
Semua sisi kehidupan kita sudah palsu. Setan bilang
kepada saya: “Tidak ada tantangan lagi. Manusia bukan tandingan Setan
sama sekali. Manusia sangat mudah kami kendalikan. Sangat tidak memiliki
kepegasan dan ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Sungguh
sudah tidak menarik lagi bertugas sebagai Setan….”
Di dalam Kitab
Suci ada disebutkan: “Dan ketika dikatakan kepada Malaikat: Bersujudlah
kepada Adam, maka bersujudlah mereka, kecuali Iblis, karena sombong dan
lalai…”
Diam-diam dibisikkan kepada saya oleh Setan: “Kami
sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja
kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud
kepada Adam. Hari ini saya nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada
Adam, karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan
kompak menyembah Iblis….”
http://www.caknun.com/2012/nyicil-simpati-kepada-setan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar