Oleh: Muhammad Ainun Nadjib
Aku jatuh
hati kepada Indonesia. Tanah air alunan balada antagonis-protagonis yang
harmonis. Tak peduli apakah nenek moyang mereka adalah Ibu Peradaban
Dunia ataukah raja dan rakyat dungu yang bisa dijajah ditipu diperdaya
oleh sekumpulan satpam VOC.
Biarin apakah mereka berasal usul
dari Negeri Atlantis, Sunda Land, atau turunan Nabi Sis ketika darah
istrinya dirasuki Iblis. Tidak urusan apakah sejarah manusia Nusantara
lebih tua dibandingkan dengan Yunani kuno, Mesir kuno, Inka-Maya,
Mesopotamia, sehingga juga jauh lebih tua daripada Ibrahim yang
menurunkan Yahudi dan Arab yang kini sedang menguasai dunia.
EGP,
apakah mereka sedang dilanda epidemi peracunan otak dua milenium,
penipuan global yang berlangsung sejak lahirnya Isa Al-Masih,
dilanjutkan 37 sesudah penyaliban beliau, serta disempurnakan tiga abad
silam sesudah Revolusi Industri. Pertengseng apakah benar "kasepuhan"
nenek moyang Nusantara ini sengaja dikubur disembunyikan oleh pemenang
sejarah dunia modern.
Nggak patheken juga apa mbah-mbah buyut
mereka dahulu kala merupakan perintis "10 pilar peradaban": biangnya
peradaban pertanian bumi dan kemaritiman laut, bikin password pemindah
hujan, penyusun awan, dan penolak rudal, impor logam dari Mars dan
Neptunus untuk bikin keris, teknologi penerbangan frontal
anti-gravitasi, penemu bahan adiksi-adiksi dari antara gunung berapi
dengan laut selatan, 41 level santet, yang anak-cucunya rindu trap-trap
sawah pegunungan hingga bikin piramid. Atau apa pun saja.
Juga
biarkan saja apakah Maha (Perdana) Menteri Gadjah Mada dengan ideologi
ambeng-nya jauh lebih demokratis dibandingkan dengan "'tumpeng" NKRI
yang berlagak demokrasi tapi rakyatnya tak punya daya kontrol apa pun
terhadap tipu daya nasional para pemimpinnya. Pun tak usah disesali
kenapa Majapahit bikin bangunan keraton dari kayu, sehingga hancur luluh
tenggelam oleh luapan lumpur Canggu antara Sidoarjo dan Mojokerto.
Go to hell with simpang siur sejarah. Wali Songo pun sekarang semakin
digugat-gugat eksistensi historisnya, karena "iman" metodologis-historis
kita tidak kepada babad, legenda, folklore, atau dongeng. Toh, sekarang
para EO menyibukkan masyarakat untuk menziarahi Wali Sepuluh: Wali
Sembilan plus Gus Dur, sementara Hadlratus-Syaikh Hasyim Asy'ari kakek
beliau dan Kiai Wahid Hasyim bapak beliau sedang dipertimbangkan apakah
termasuk wali atau bukan. Bahkan biro-biro travel sudah melantik Wali
Songo Jawa Timur. Jadi Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus,
tidak termasuk. Dicari wali-wali lain di lingkup Jawa Timur untuk
disembilan-sembilankan.
Aku jatuh hati kepada Indonesia. Sebagian
rakyatnya yang tidak bobrok berpendapat, Indonesia sedang
bobrok-bobroknya. Kenyataannya tidaklah bobrok, karena kebobrokan tidak
mengerti kebobrokan, kegelapan tidak menyebut dirinya kegelapan. Para
penganut aliran kebobrokan berteriak cemas: "Bangsa Indonesia harus
bangkit!" Sementara itu, yang paling bobrok berpikir sebaliknya: "Kita
sudah bangkit, bahkan sedang menikmati ninabobo dunia internasional yang
menganugerahi kita 'Award of Kebangkitan'."
Di fajar hari,
ibu-ibu sudah siap di pasar ketika presiden masih tidur. Ada yang
berfilsafat: rakyat yang baik adalah yang rajin salat subuh, yang
produktivitasnya dimulai sejak sangat dini. Tapi ada yang memelesetkan:
subuh itu berwarna hijau, karena subuh adalah Islam. Presiden dan
pemerintah jangan rajin salat subuh, supaya wajahnya tak jadi hijau,
seperti tahun-tahun terakhir Soeharto. Dunia tidak suka Indonesia
berwarna hijau dan pakai peci. Untuk Indonesia, Islam mesti hijau lapuk,
pemeluknya harus bodoh, kumuh, brutal, dan nutrisi rendah. Meskipun
demikian, tampil modern dan mewah boleh juga, asalkan hipokrit dan
permisif.
Terserah. Yang pasti, jangan suruh rakyat Indonesia
bangkit. Mereka tiap hari sudah bangkit, karena tiap hari jatuh.
Kejatuhan adalah parameter utama rakyat dalam mengukur setiap
pemerintahan yang menimpakan kepada mereka musibah-musibah. Seberapa
kadar kejatuhan rakyat pada penguasa yang ini, yang itu, di zaman
kerajaan maupun republik. Rakyat Indonesia adalah pakar kejatuhan, maka
juga Pendekar Kebangkitan, yang mampu bangkit meskipun tanpa
kebangkitan.
Maka bernama bangsa garuda, meskipun ada yang
mengejeknya sebagai bangsa emprit. Tak apa. Emprit jasadnya, garuda
jiwanya. Garuda memperoleh kelahiran kedua pada usia sekitar 40 tahun
dengan terlebih dulu melakukan penghancuran atas paruh dan kuku-kukunya,
yang kemudian, bagi yang lulus: tumbuh paruh sejati dan kuku sejati.
Sebagaimana garuda terbang ke gunung-gunung batu untuk mematuki dan
mencengkeram batu-batu itu sampai paruh dan kukunya tanggal --bangsa
Indonesia hari ini juga sedang riang-riangnya menghancurkan paruh dan
kukunya sendiri.
Garuda bangkit dan terbang, dengan 17 helai
sayap dan 8 helai ekor, angka hari kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Andaikanpun Indonesia merdeka pada tanggal 1 bulan 1, ia tetap jagoan
dan sanggup terbang dengan sayap sehelai. Bangsa tertangguh di muka bumi
ini, sanggup bergembira dalam derita, mampu melangkah pasti di jalan
ketidakpastian, ringan tertawa di kurungan rasa bingung dan sengsara.
Aku tergila-gila pada Indonesia. Bangsa yang juara atas hidupnya
sendiri. Warga negara miskin antre naik haji menunggu 10 tahun lebih,
tanpa pernah menawar berapa pun biayanya. Bahkan membayar di muka, tanpa
peduli ke mana bunganya. Di Tanah Suci, mereka sowan kepada Kanjeng
Nabi dan mendengarkan petuah menantu beliau si penjaga pintu ilmu Sayyid
Ali bin Abi Thalib: ''Wahai bangsa Indonesia, jangan katakan kepada
Tuhan bahwa kalian punya masalah, tetapi nyatakan kepada masalah bahwa
kamu punya Tuhan."
Bangsa Indonesia punya banyak senjata untuk
melawan kejatuhan dan siaga menyelenggarakan kebangkitan. Mereka
menantang kehidupan yang tidak rasional dan penuh kemustahilan dengan
"bismillah". Atas nafkah tidak mencukupi mereka bilang "tawakal". Didera
keadaan serba-kekurangan terus-menerus mereka ladeni dengan "tirakat"
dan keyakinan bahwa ''ayam saja dikasih rezeki oleh Allah''. Ditipu
habis oleh penguasa, cukup mereka tepis dengan ''Tuhan tidak tidur''.
Usaha gagal, dagang bangkrut, mereka layani dengan "istikamah" dan
"jihad fisabilillah". Besok belum tentu makan, apalagi bayar kontrakan
rumah dan terlebih-lebih lagi membiayai anak sekolah tidak membuat
mereka putus asa, karena di dalam dada mereka ada "nekat".
Mereka
adalah champion of life. Jagoan dalam mengalahkan segala jenis
kesusahan hidup. Juara penderitaan. Sanggup membangun kegembiraan dalam
kesengsaraan. Petarung kesulitan. Pendobrak kemustahilan. Tertawa dalam
kehancuran. Pandai dalam kebodohan. Tidak mengenal lelah untuk
terus-menerus ditipu, dibohongi, diperdaya, dan ditindas.
Di
negara Pancasila, mereka sangat percaya kepada Tuhan, tetapi sangat
toleran kepada berhala-berhala. Di berbagai kegiatan hidup, dari
keagamaan, politik, dan budaya, mereka bahkan cenderung eksploitatif
terhadap berhala-berhala. Sangat gemar bermain berhala, mengambil apa
dan siapa saja sekenanya untuk diberhalakan, dipresidenkan,
digubernurkan, di-Gus-kan. Esok paginya berhala itu dibuang, ganti
berhala baru. Parachampion of life sangat percaya diri, sehingga
semau-mau mereka ambil berhala, pura-pura menyembahnya, mengaturnya,
mempergilirkannya.
Rasa sayangku pontang-panting kepada
Indonesia. Bangsa yang tidak menuntut kepemimpinan kepada para pemimpin.
Tidak menuntut komitmen kerakyatan kepada petugas pemerintahan yang
mereka upah. Tidak menagih kesejahteraan kepada pengelola tanah airnya,
bahkan menyedekahkan kekayaan kepada kepala negara kepala pemerintahan
dan seluruh jajarannya. Tidak mempersyaratkan keterwakilan kepada para
wakilnya. Lahap mengunyah disinformasi yang dipasok oleh para petugas
informasi.
Bangsa yang tidak mengenal kehancuran. Sebab memang
tidak berjarak dari kehancuran. Juga karena dalam stuktur kejiwaan
mereka: antara kehancuran dan kejayaan, antara riang dengan sedih,
antara maju dengan mundur, hebat dengan konyol, mulia dengan hina,
pandai dengan bodoh, surga dan neraka, pada alam mental rakyat Indonesia
--itu semua sama sekali bukan polarisasi, tidak bersifat dikotomis, tak
berhulu-hilir, hulunya adalah juga hilirnya, hilirnya adalah juga
hulunya.
Tak ada garis lurus interval. Kedua dimensi nilai-nilai
itu berada dalam bulatan yang bersambung, yang kalau dipandang dari
jarak tertentu: ia adalah sebuah titik. Rakyat Indonesia tidak tertindas
oleh ketidakmenentuan dalam kehidupan bernegara. Republik ayo, kerajaan
monggo. Presidensial silakan, parlementer tak apa. Kalau pengurus
negerinya mengabdi kepada mereka, ya, tidak dipuji. Kalau mengabdinya
kepada diri penguasa sendiri, ya, dibiarkan. Kalau tidak mengabdi malah
menganiaya, ya, dikutuk beberapa saat saja.
Mereka tidak terikat
untuk mengingat apa yang harus diingat atau melupakan sesuatu yang harus
dilupakan. Juga tidak tertekan untuk harus tahu dan mengerti sesuatu.
Mau ingat apa, mau lupa apa, mau ngerti apa, terserah-serah kepentingan
mereka saat itu. Sebab akurasi energi psikologis mereka mengarah ke
kebahagiaan diri: ingat, lupa, dan mengerti bisa menjadi tembok
penghalang utama yang membuat mereka tidak mencapai kebahagiaan secara
pragmatis dan permisif. Bahkan antara ingat dan lupa, antara ngerti
dengan tidak ngerti, bisa diracik oleh jiwa manusia Indonesia menjadi
sebuah kesatuan yang dibikin relatif. Kapan butuh ingat, dia ingat.
Kalau yang menguntungkan adalah lupa, mereka pun lupa.
Jangankan
tentang isi dunia, sejarah, negara, pemerintah, penggadaian kekayaan
tanah air, korupsi, dan perampokan oleh luar maupun dalam negeri:
sedangkan terhadap surga sesungguhnya mereka tidak rindu-rindu amat, dan
terhadap neraka mereka tidak benar-benar ngeri.
Cintaku kepadamu sekonyong-koder, Indonesia.()
Sumber : http://www.gatra.com/kolom-dan-…/23282-champion-of-life.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar