Oleh: Redaksi Maiyah Kanoman
Pada dasarnya, semua alat itu ada untuk
memudahkan dan membantu kerja manusia.
Jauh sebelum komputer dipergunakan untuk banyak hal seperti sekarang
ini, ide awal pembuatannya sekedar hanya sebagai alat bantu untuk
perhitungan angka-angka atau mekanik – elektronik.
Penemuan sekitar 80-an tahun yang lalu ini
sekaligus bentuk evolusi alat hitung yang telah ada ribuan tahun
sebelumnya seperti sempoa. Bisa dibayangkan deretan poros berisi
manik-manik dalam kerangka kayu sebagai alat hitung kemudian muncul yang
lebih praktis dan memudahkan.
Seiring berkembangnya teknologi, alat
komunikasi juga berkembang beriringan.
Perkembangan yang tidak sekedar pemenuhan dalam berkomunikasi dua arah,
melainkan hari ini seolah menjadi sumber informasi praktis yang
kebanyakan tidak perlu tahu asbabul unggahnya dengan santai diunduh.
Kemajuan – kemajuan yang dirasakan membuat terlena sehingga tidak
pernah benar – benar dihitung apakah dibalik itu semua mengandung
ancaman. Ke serba-mudah dan praktis berkat akses teknologi dan alat
bantu mengaburkan hal pokok yang menjadi tujuan.
Dalam game,
seseorang akan naik level setelah mampu menyelesaikan tantangan. Dan
tentu saja ketika sudah mencapai –misal- level 5 maka level 4 ke bawah
menjadi sesuatu yang mudah. Namun apakah kemampuan mengoperasikan alat
yang canggih hari ini secara otomatis
menandakan bahwa seseorang telah mampu mengoperasikan alat yang lebih
sederhana yang justeru telah ada sebelumnya. Jawabannya tidak
mesti bahkan kebanyakan tidak.
Ambil contoh misalnya komputer dengan mesin ketik manual. Tidak semua
orang yang mampu mengoperasikan komputer lantas menjadi jaminan
kemampuan dalam mengoperasikan mesin ketik.
Kalau kita semua coba
menghitung, dari segala sesuatu yang kita unggah dan segala sesuatu
yang kita unduh, untuk kemudian kita renungkan kualitasnya, baik
kualitas pengetahuan maupun kadar kemanusiaan. Atau minimal dari itu
semua
ada nilai manfaat untuk orang lain. Tidak perlu terlalu memperpanjang daftar untuk
perbandingan misalnya dengan leluhur kita yang mampu menemukan perhitungan – perhitungan atas pembacaan terhadap alam.
Mbah-mbah kita, kakek buyut kita dulu mungkin tidak mengenal dunia
teknologi informasi seperti jaman sekarang kita ini. Hidupnya tidak
termanjakan dan dimudahkan oleh perangkat-perangkat teknologi, tapi,
mereka masih lebih
memiliki kematangan, kedewasaan dan
‘kecanggihan’ budaya. Tanggap ing sasmita, winasis, juga sensitive
terhadap rangsangan-rang sangan alam sekitarnya. Doanya Kabul.
maintenance sosialnya harmonis terjaga.
Apakah perkembangan
teknologi sudah benar-benar mejadi ancaman dan bahaya bagi
keberlangsungan hidup manusia? Atau ada yang salah pada apa-apa yang
sebenarnya dituju dan tidak dituju darinya, oleh apa yang kita sebut
sebagai kemajuan?
Perlu juga untuk sesekali merenungi apa saja
yang sudah kita unggah ke langit dan kita unduh dari langit. Adakah
syarat kompatibel? Jika iya, perlukah ada semacam ‘upgrade OS'
(Operating System) agar bisa kompatibel? Atau, apakah hari ini langit
sudah menjadi ‘maya’ yang tidak kalah mayanya dengan ‘dunia’ bahkan juga
dengan yang biasa disebut ‘dunia maya’?.
#Red_MKPMei

Tidak ada komentar:
Posting Komentar