Minggu, 22 Mei 2016

MUKADIMAH : Unggah – Unduh

Oleh: Redaksi Maiyah Kanoman

Pada dasarnya, semua alat itu ada untuk
memudahkan dan membantu kerja manusia.
Jauh sebelum komputer dipergunakan untuk banyak hal seperti sekarang ini, ide awal pembuatannya sekedar hanya sebagai alat bantu untuk perhitungan angka-angka atau mekanik – elektronik.
Penemuan sekitar 80-an tahun yang lalu ini
sekaligus bentuk evolusi alat hitung yang telah ada ribuan tahun sebelumnya seperti sempoa. Bisa dibayangkan deretan poros berisi manik-manik dalam kerangka kayu sebagai alat hitung kemudian muncul yang lebih praktis dan memudahkan.
Seiring berkembangnya teknologi, alat
komunikasi juga berkembang beriringan.
Perkembangan yang tidak sekedar pemenuhan dalam berkomunikasi dua arah, melainkan hari ini seolah menjadi sumber informasi praktis yang kebanyakan tidak perlu tahu asbabul unggahnya dengan santai diunduh.
Kemajuan – kemajuan yang dirasakan membuat terlena sehingga tidak pernah benar – benar dihitung apakah dibalik itu semua mengandung ancaman. Ke serba-mudah dan praktis berkat akses teknologi dan alat bantu mengaburkan hal pokok yang menjadi tujuan.
Dalam game, seseorang akan naik level setelah mampu menyelesaikan tantangan. Dan tentu saja ketika sudah mencapai –misal- level 5 maka level 4 ke bawah menjadi sesuatu yang mudah. Namun apakah kemampuan mengoperasikan alat
yang canggih hari ini secara otomatis
menandakan bahwa seseorang telah mampu mengoperasikan alat yang lebih sederhana yang justeru telah ada sebelumnya. Jawabannya tidak
mesti bahkan kebanyakan tidak.
Ambil contoh misalnya komputer dengan mesin ketik manual. Tidak semua orang yang mampu mengoperasikan komputer lantas menjadi jaminan kemampuan dalam mengoperasikan mesin ketik.
Kalau kita semua coba menghitung, dari segala sesuatu yang kita unggah dan segala sesuatu yang kita unduh, untuk kemudian kita renungkan kualitasnya, baik kualitas pengetahuan maupun kadar kemanusiaan. Atau minimal dari itu semua
ada nilai manfaat untuk orang lain. Tidak perlu terlalu memperpanjang daftar untuk
perbandingan misalnya dengan leluhur kita yang mampu menemukan perhitungan – perhitungan atas pembacaan terhadap alam.
Mbah-mbah kita, kakek buyut kita dulu mungkin tidak mengenal dunia teknologi informasi seperti jaman sekarang kita ini. Hidupnya tidak termanjakan dan dimudahkan oleh perangkat-perangkat teknologi, tapi, mereka masih lebih
memiliki kematangan, kedewasaan dan
‘kecanggihan’ budaya. Tanggap ing sasmita, winasis, juga sensitive terhadap rangsangan-rang sangan alam sekitarnya. Doanya Kabul. maintenance sosialnya harmonis terjaga.
Apakah perkembangan teknologi sudah benar-benar mejadi ancaman dan bahaya bagi keberlangsungan hidup manusia? Atau ada yang salah pada apa-apa yang sebenarnya dituju dan tidak dituju darinya, oleh apa yang kita sebut sebagai kemajuan?
Perlu juga untuk sesekali merenungi apa saja yang sudah kita unggah ke langit dan kita unduh dari langit. Adakah syarat kompatibel? Jika iya, perlukah ada semacam ‘upgrade OS' (Operating System) agar bisa kompatibel? Atau, apakah hari ini langit sudah menjadi ‘maya’ yang tidak kalah mayanya dengan ‘dunia’ bahkan juga dengan yang biasa disebut ‘dunia maya’?.
‪#‎Red_MKPMei‬

Tidak ada komentar:

Posting Komentar