“Mentas”
Inti
dari semua bahasa Nusantara adalah semantik. Adanya penghayatan estetik atas
relasi antara manusia dan sesamanya serta alam. Orang Jawa tidak pernah belajar
kalimat, melainkan kosakata. Dengan kosakata otomatis terbentuk dunia, karena
kosakata diajarkan dengan rasa.
Model
pendidikan diubah oleh kolonial menjadi klasikal seperti yang kita kenal
sekarang sudah sejak pertengahan abad 19. Sejak saat itulah diajarkan tata
bahasa struktural. Ada subjek, predikat, objek dan keterangan. Meski setiap
daerah yang memiliki bahasa daerah tetap mengajarkan bahasanya, akan tetapi
metodologi yang dipakai masih milik mereka, diadopsi. Di jawa, subjek menjadi
jejer, predikat-waseso, objek-lisan, dan keterangan menjadi katerangan. Terjadi
gradasi rasa. Tertanam mindset struktural, ada semacam pemahaman eksploitasi
subjek atas objek.
Merupakan
akibat atau bukan, hari ini banyak dan mungkin kebanyakan orang sudah berhenti
penilaiannya pada sebatas gambar, bukan peristiwa. Padahal gambar sejatinya
menunjukkan peristiwa. Berpikir sumbu pendek, Komunikasi urat leher,
berkesimpulan asap, dan seterusnya dan seterusnya. Daya telusur hulu atas hilir
yang lemah dengan jarak, cara, sudut dan resolusi pandang yang kurang tepat
sehingga tumpul analisis dan pemahaman atas sesuatu tidak jangkep atau
komprehensif.
Nabi
Adam oleh Allah tidak pernah diajari nama-nama benda, melainkan peristiwa.
Menjalani hidup adalah bertanggungjawab pada asal-usul dan jalan pulang, bahasa
lainnya adalah menemukan Sang Pencipta. Dan sampai masa pra-Taurat, Allah tidak
memberi panduan literer. Ada bekal teknologi internal untuk kepekaan menangkap
hamparan ayat semesta dengan mengasah kecerdasan memaknai peristiwa.
Disinilah
letak asyiknya hidup, salah satu sebabnya adalah adanya batas. Setiap orang
berada pada tahapannya, pada laku dan lelakunya masing-masing. Batas anak kecil
untuk segera mentas dari mandinya
tidak sepenuhnya berdasar kedaulatan dan kemerdekaan bersikap seorang anak,
melainkan adanya peran orang tua. Entah apapun alasannya, dalam hal ini orang
tua memposisikan diri lebih tahu dari anaknya tentang apa yang terbaik untuk
anaknya. Dalam kasus jemuran, - bisa pakaian, gabah, singkong, cengkeh dlsb - batas mentas dan ukuran untuk di-entas tidak selalu menandakan proses
penjemuran sudah selesai, sebab akan turun hujan.
Sebagai
orang jawa, mentas merupakan idiom
yang sudah menjadi makanan sehari-hari yang lazim diucapkan orang tua kepada
anak. Dalam bahasa pemerintah, kita biasa mendengar adanya program yang
bertujuan untuk pengentasan kemiskinan, pengentasan buta aksara dlsb. Secara
umum, meski tidak bisa dikatakan sebagai kesimpulan, mentas bisa juga diartikan menyudahi atau selesai.
Satu
huruf saja, jika aksentuasinya kita rubah dari e menjadi é. Maka akan kita
dapati kata yang sama sekali berbeda arti. Dari arti sebelumnya yang menunjukan
menyudahi, kita dapatkan kata yang berarti penampilan-menampilkan-tampil. Modal
untuk mentas (1) adalah pengetahuan tentang batas, baik itu batas yang sudah
ditentukan, maupun batas yang disepakatkan.
Sedang modal untuk méntas (2) adalah karya yang di péntaskan. Dalam
maiyah sendiri tidak ada pementasan. Kalaupun ada, yang ditampilkan dalam
maiyahan pada prinsipnya adalah perayaan kegembiraan. Maiyah menghimpun
perbedaan-perbedaan, kecenderungan-kecenderungan, bertadabbur bersama, dan mengelola
arus positif dan negatif menjadi cahaya.
Untuk
bisa mentas, sebab hidup itu putaran (cakra manggilingan; berputarnya roda
kehidupan baik skala mikro maupun makro), perlu memahami peta kesadaran yang
utuh atas keberadaan dan batasan diri. Untuk menjadi manusia saja – belum
Abdullah-khalifatullah – kita perlu mentas dari kesadaran batu, kesadaran
tumbuhan, kesadaran hewan, baru menjadi manusia.
Baik
diperuntukkan méntas maupun tidak, seberapa perlukah mentas? Apalagi untuk méntas,
apakah tidak menjadi masalah atau bahkan sudah menjadi kewajaran tidak
mempersyarati mentas? Sedangkan manusia terikat batas.
#redMKP
#MKPNov

Tidak ada komentar:
Posting Komentar