Jumat, 18 November 2016

Mukadimah Maiyah Kanoman Pemalang │26 November 2016




“Mentas”

Inti dari semua bahasa Nusantara adalah semantik. Adanya penghayatan estetik atas relasi antara manusia dan sesamanya serta alam. Orang Jawa tidak pernah belajar kalimat, melainkan kosakata. Dengan kosakata otomatis terbentuk dunia, karena kosakata diajarkan dengan rasa.
Model pendidikan diubah oleh kolonial menjadi klasikal seperti yang kita kenal sekarang sudah sejak pertengahan abad 19. Sejak saat itulah diajarkan tata bahasa struktural. Ada subjek, predikat, objek dan keterangan. Meski setiap daerah yang memiliki bahasa daerah tetap mengajarkan bahasanya, akan tetapi metodologi yang dipakai masih milik mereka, diadopsi. Di jawa, subjek menjadi jejer, predikat-waseso, objek-lisan, dan keterangan menjadi katerangan. Terjadi gradasi rasa. Tertanam mindset struktural, ada semacam pemahaman eksploitasi subjek atas objek.
Merupakan akibat atau bukan, hari ini banyak dan mungkin kebanyakan orang sudah berhenti penilaiannya pada sebatas gambar, bukan peristiwa. Padahal gambar sejatinya menunjukkan peristiwa. Berpikir sumbu pendek, Komunikasi urat leher, berkesimpulan asap, dan seterusnya dan seterusnya. Daya telusur hulu atas hilir yang lemah dengan jarak, cara, sudut dan resolusi pandang yang kurang tepat sehingga tumpul analisis dan pemahaman atas sesuatu tidak jangkep atau komprehensif.
Nabi Adam oleh Allah tidak pernah diajari nama-nama benda, melainkan peristiwa. Menjalani hidup adalah bertanggungjawab pada asal-usul dan jalan pulang, bahasa lainnya adalah menemukan Sang Pencipta. Dan sampai masa pra-Taurat, Allah tidak memberi panduan literer. Ada bekal teknologi internal untuk kepekaan menangkap hamparan ayat semesta dengan mengasah kecerdasan memaknai peristiwa.
Disinilah letak asyiknya hidup, salah satu sebabnya adalah adanya batas. Setiap orang berada pada tahapannya, pada laku dan lelakunya masing-masing. Batas anak kecil untuk segera mentas dari mandinya tidak sepenuhnya berdasar kedaulatan dan kemerdekaan bersikap seorang anak, melainkan adanya peran orang tua. Entah apapun alasannya, dalam hal ini orang tua memposisikan diri lebih tahu dari anaknya tentang apa yang terbaik untuk anaknya. Dalam kasus jemuran, - bisa pakaian, gabah, singkong, cengkeh dlsb - batas mentas dan ukuran untuk di-entas tidak selalu menandakan proses penjemuran sudah selesai, sebab akan turun hujan.
Sebagai orang jawa, mentas merupakan idiom yang sudah menjadi makanan sehari-hari yang lazim diucapkan orang tua kepada anak. Dalam bahasa pemerintah, kita biasa mendengar adanya program yang bertujuan untuk pengentasan kemiskinan, pengentasan buta aksara dlsb. Secara umum, meski tidak bisa dikatakan sebagai kesimpulan, mentas bisa juga diartikan menyudahi atau selesai.
Satu huruf saja, jika aksentuasinya kita rubah dari e menjadi é. Maka akan kita dapati kata yang sama sekali berbeda arti. Dari arti sebelumnya yang menunjukan menyudahi, kita dapatkan kata yang berarti penampilan-menampilkan-tampil. Modal untuk mentas (1) adalah pengetahuan tentang batas, baik itu batas yang sudah ditentukan, maupun batas yang disepakatkan.  Sedang modal untuk méntas (2) adalah karya yang di péntaskan. Dalam maiyah sendiri tidak ada pementasan. Kalaupun ada, yang ditampilkan dalam maiyahan pada prinsipnya adalah perayaan kegembiraan. Maiyah menghimpun perbedaan-perbedaan, kecenderungan-kecenderungan, bertadabbur bersama, dan mengelola arus positif dan negatif menjadi cahaya.
Untuk bisa mentas, sebab hidup itu putaran (cakra manggilingan; berputarnya roda kehidupan baik skala mikro maupun makro), perlu memahami peta kesadaran yang utuh atas keberadaan dan batasan diri. Untuk menjadi manusia saja – belum Abdullah-khalifatullah – kita perlu mentas dari kesadaran batu, kesadaran tumbuhan, kesadaran hewan, baru menjadi manusia.
Baik diperuntukkan méntas maupun tidak, seberapa perlukah mentas? Apalagi untuk méntas, apakah tidak menjadi masalah atau bahkan sudah menjadi kewajaran tidak mempersyarati mentas? Sedangkan manusia terikat batas.

#redMKP #MKPNov

Tidak ada komentar:

Posting Komentar