Reportase “TA[N]PA CINTA”
Maiyah Kanoman Pemalang, Januari 2016
Hari
semakin sore, hujan belum juga menunjukkan tanda akan berhenti meski demikian
tidak menyurutkan semangat untuk tetap bermaiyah malam ini. Hari ini Sabtu,
tanggal 30 Januari 2016 akan dilangsungkan Maiyahan yang ke 16 bertempat di
Sanggar Laron Kobong, Desa Mandiraja-Kecamatan Moga-Kabupaten Pemalang.
Menjelang
terbenamnya Mentari, hadirin mulai nampak berdatangan. Seperti Maiyahan
sebelumnya, bahkan seolah sudah menjadi hal yang biasa, mereka berdatangan
tidak dengan tangan kosong, ada yang membawa Ubi rebus, Jagung rebus, kopi,
wedang jahe dan lain sebagainya. Makanan-makanan ringan bekal pribadi untuk
bersama-sama nanti, dan tentunya yang lebih penting mereka datang tidak dengan
Hati yang kosong, melainkan dengan cinta, untuk menyongsong berlangsungnya maiyahan.
Secara
formal, maiyahan kali ini ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, karena baru
dimulai sesudah memasuki waktu setengah dua belas malam. Yang sebelumnya
dijadwalkan mulai jam delapan. Meskipun para hadirin sudah mulai melingkar
saling berinteraksi semenjak sore. Karena para pegiat ada yang menjemput dan
dua pegiat lainnya, Hadi dan Rifki selaku kordinator Maiyah Kanoman sempat
terkena tilang. Para hadirin yang berada dilokasi, memilih setia menanti sejak
sore hari.
***
Sesudah
semuanya berkumpul, Maiyahan segera langsung dimulai. Dan melihat kondisi yang
terjadi, acara dibawa sesantai mungkin meski tidak mengurangi kekhidmatan
suasana. Rasanya tidak etis dan tidak
proporsional langsung dibawa ke agenda acara dan sesi diskusi. Acara yang
sebelumnya diagendakan akan dimulai dengan pembacaan surat al-Qur’an, Wirid
wabal dan Do’a Tahlukah, akhirnya tidak jadi dilaksanakan sepenuhnya sesuai
rencana.
Mas
Abdur Rokhim yang aktif mengikuti Maiyahan Kenduri Cinta hampir setiap
bulannya, diminta mengawali penghaturan doa. Sebelum hadirin diajak
menghaturkan do’a, Mas Abdur Rokhim menyampaikan beberapa hal terkait
pengalamannya di Maiyah dan menceritakan bahwa ini kali pertamanya bisa ikut
duduk melingkar di Maiyahan Kanoman pemalang, dan sengaja pulang dari Jakarta
untuk mengobati rasa kangen serta keinginannya untuk bisa berkumpul. Setelah
sekian lama keinginannya ditahan, baru kali ini terkabul. Selanjutnya ia
berbagi informasi seputar penghaturan wirid Wabal dan doa Tahlukah sesuai apa
yang diterimanya. Do’a dibuka dengan pembacaan surat al-Ikhlas, al-Falaq, serta
an-Naas dilanjut dengan ya Dzal Wabal dan disusul para hadirin secara bersama.
Acara
langsung dikondisikan pada pencairan suasana melalui beberapa nomor lagu.
Dengan diiringi gitar yang dipetik sendiri, Mas heru mencoba apresiasi karya
indie, yang dalam hal ini lagu puisi karya Fajar Merah, anaknya Wiji Tukul yang
kemudian ia nyanyikan:
…
karena kebenaran akan terus hidup
sekalipun kau lenyapkan
kebenaran takkan mati
aku akan tetap ada dan berlipat ganda
Dilanjutkan dengan lagu karya
sendiri yang bait pertamanya terinspirasi tembang
dolanan dari blok wetan di
desanya, yang kemudian ia aransemen
ulang, bertajuk padhang wulan.
padhang padhang wulan
blok wetan pada dolan
aku nemu yuyu
blok wetan ayu ayu
Nomor-nomor
lagu yang menghangatkan suasana tengah malam, dilanjutkan oleh Mas Hamzah. Mas
Hamzah dengan Mas Heru sempat bergabung pada grup band yang sama bernama
Dulkhalim Band. Sekarang mereka berkarya dengan jalurnya masing-masing. Mas
hamzah juga menyanyikan lagu karya sendiri. Sebuah lagu Jawa kombinasi Sholawat
yang diberi judul Jaman Wis Akhir, kegelisahannya
terhadap lingkungan dijadikan sebuah lagu yang banyak mangandung sindiran tajam
lewat syairnya;
kye jaman akhir akeh wong kenthir
ora pada mikir malah cengar cengir
batir nyacad batir
aduh aduh kenthir
dan dilanjut dengan nomor keduanya,
yaitu Cintaku Lukaku.
Usai
nomor-nomor lagu dinyanyikan, Mas Aman coba merespon lagu cintaku lukaku dengan
menyampaikan pemaknaan-pemaknaan syairnya, yang dipararelkan dengan kondisi
bangsa Indonesia sekarang.
Disusul
respon Mas Heru yang mengatakan: “kalau ada istilah yang mengatakan:
sampaikanlah walau satu ayat, di Dulkhalim Band ada ungkapan, sampaikanlah
walau satu nada”. Kemudian Mas Heru melanjutkan bahwa kita belajar bersama,
yang ngajarin tidak ada, dan ketika kita berkarya dan digabungkan mungkin bisa
menemu musik yang sama. Tapi kalau kita berkarya sendiri, musik yang kita
hasilkan bisa berbeda, karena itu pengaruh dari apa yang kita konsumsi.
Kemudian Mas Heru berharap mudah-mudahan apa yang kita konsumsi dari hal-hal
yang positif, bisa menghasilkan sesuatu yang positif pula.
Tanggapan
disusul lagi oleh Mas Aman, dengan mengandaikan jagung rebus yang ada di
tengah-tengah hadirin itu yang dikonsumsi isinya, bukan kulitnya. Sesuatu itu
juga bisa dipandang sebagai kulit atau isi, tergantung dari bagaimana cara kita
memaknainya.
Suasana
maiyahan terbangun seperti saut-sautan burung. Susul menyusul saling
menanggapi. Para hadirin terlihat nyaman.
Setelah
suasana nyaman terbangun, Rifki Arwanto memulai sesi pengantar untuk permulaan
memasuki tema yang disiapkan malam ini. Seperti biasanya, uraian terkait
kegelisahan yang memunculkan tema disampaikan dengan dasar-dasar penarikan
kerangka berpikir agar diskusi tidak
menjadi bias.
Sebelum
memasuki tema diskusi lebih dalam, Rifki Arwanto mengapresiasi atas lagu-lagu
yang ditembangkan tadi dari hasil karya sendiri, meskipun ada karya anaknya
Wiji Tukul juga. Dengan rendah hati ia sampaikan bahwa rencana kita belum mesti
berkesesuaian dengan rencana Allah. Acara maiyahan malam ini, yang sedianya
dimulai jam delapan, ternyata ada peristiwa-peristiwa yang “menghalangi”
termasuk tilang. Tidak terjadinya pembacaan wirid wabal, surat, dan sebagainya
yang sudah direncanakan, barangkali itu pertanda wabal dari Allah. Belum wabal-wabalan
sudah terwabal dulu.”
Kemudian
disampaikan yang penting untuk dibagikan informasinya bagi hadirin yang datang,
karena belum semua hadirin mengenal maiyah. “Wirid Tahlukah muncul pada tahun
2013, dan Wabal tahun 2016. Dari Maiyah membikin edaran untuk diamalkan
sepanjang 2016. Di jogja (Macapat Syafaat) dijelaskan oleh Cak Nun, kalau
melihat sejarahnya Indonesia tahun ’65, faktor PKI tumbang, salah satunya
karena diamalkan Hizib Nashr di Indonesia. Ulama-ulama dan lembaganya, NU
melalui NU-nya, Muhammadiyah melalui Muhammadiyahnya, mewajibkan membaca Hizib
Nashr secara khusus, di tempat-tempat dan waktu-waktu tertentu. Jadi ada faktor
langit juga yang berperan waktu itu. Hizib Nashr atau yang lain, isinya
penghancuran, atau kita menginkan mereka itu dilemahkan, aksesnya dihilangkan,
atau tenaganya dihilangkan.”
“Cak Nun sendiri mengatakan, kalau beliau hatinya tidak tega. Tidak
punya kekuatan untuk hal-hal yang seperti itu, maka, keluarlah Wirid Wabal.
Yang dinamakan juga Wirid Akhlaqi. Jadi, yang diminta itu bukan orangnya yang
hancur atau tetep seperti itu, tapi akhlaqnya yang dirubah. Memintakan hidayah
untuk yang dirubah akhlaqnya. Datangnya hidayah sendiri bagaimana, itu urusannya
Gusti Allah. Bisa lewat ditabrak mobil dulu baru sadar, itu urusannya Allah,
tapi kita tidak meminta orang-orang ditabrak mobil. Ditilang dulu baru sadar.
Dan ternyata SIM itu penting”. Candanya untuk merespon kejadian yang baru saja
ditimpanya, membuat Gerrr hadirin semua.
Begitulah
Rifki Arwanto menjelaskan sekilas tentang Wirid Wabal. “Tata cara pembacaannya
dicontohkan di Jakarta, di Jogja, di Jombang, dan di Surabaya. Yang disebarkan
itu Wirid Tahlukah dan wabalnya. Selain itu boleh memilih surat apapun di
al-Qur’an sesuai hajat, sesuai kebutuhan, sesuai skala ketidakmampuan urusan
yang tidak bisa kita hadapi. Mungkin skalanya keluarga, desa dan seterusnya.
Tidak ada aturan main yang khusus. Jadi bentuk do’anya seperti ini, silahkan
diamalkan.”
Rifki
menambahkan bahwa Cak Nun menyampaikan kalau wirid ini tidak melalui
ijazah-ijazahan. “Wong kiye wis metu, ya dudu nggone aku” tirunya. “Dadi ora perlu poyan, ora apa. Intinya
ini, kalau untuk simpul Maiyah yang sudah ada namanya seperti Maiyah Kanoman direkomendasikan untuk membacanya. Dan
tidakpun, juga tidak masalah. Tapi direkomendasikan sepanjang 2016 untuk
membaca, dengan harapan bahwa banyak hal di Negara dan Bangsa ini yang sudah di
luar batas kemampuan diri kita untuk menghadapinya. Jadi kita meminta kepada
Allah semoga dengan tirakat kita ini, dengan tapa, dengan mendekatkan kepada
Allah seperti ini, semoga tahun 2016 ini selesai. Kalau ternyata selesai tahun
2016 keadaannya masih seperti ini, berarti Allah mengizinkan untuk kita ngrampungi dengan cara kita. Bahasanya
seperti itu. Rencanane kaya apa, nyong
naha ora ngerti, mbokan ana rencana dhewek ning kanane.”
“Itulah hal terkait Tahlukah dan Wabal. Tahlukah itu peluru. Hulu
ledaknya Wabal. Busur dan anak panahnya. Untuk melesatkan kita perlu
perangkat-perangkat itu.”
Selanjutnya
masuk pada tema TA[N]PA CINTA menjadi ikhtiar bersama agar teman-teman menggali
kembali serta menyusun ulang paradigma cinta. Soalnya dengan melihat
pemberitaan serta realitas yang ada, apakah itu cinta?. Pertanyaan-pertanyaan
mendasar, beragam simbol dan tindakan sebagai ungkapan ekspresi cinta
disampaikan. Definisi-definisi cinta dipertanyakan kembali untuk mengetahui
secara jauh dan dalam pengetahuan tentang cinta.
Sesudah
Rifki selaku pemandu diskusi menyampaikan kerangka fikir tentang cinta,
kemudian coba memancing yang hadir untuk terlibat dalam pembahasan tema. “Yang
penting adalah kita bisa kumpul dan sinau bareng. Syukur nantinya ada yang bisa
dibawa pulang dan bermanfaat, yang tentu porsinya berbeda-beda. Lebih lanjut
Rifki menambahkan kalau di maiyah, yang dirasakan, tidak pernah merubah bentuk
manusia. Maksudnya, Kalau orang musik, mungkin dapat feel-nya ketika berada di maiyah. Atau yang tasawuf, yang suka
toriqotan, yang suka film. Kalau di forum-forum yang sudah besar, disana bisa
ditemukan hampir mencakup semua apa yang dibutuhkan orang yang datang. Jadi
ketika pulang bisa menambah kuat karakter. Tidak merubah karakter dari orang
tersebut. Jadi kalau malam ini mau dibawa pada ruang yang sama, ya wagu.
Kalau berangkat dari ayam, masa pulang jadi bebek. Harapannya itu, jadi disini
saling berbagi dari sudut pandang masing-masing.”
Rifki
selaku moderator mulai menyerahkan pada hadirin untuk ikut berbagi pandangannya
tentang cinta.
Mas
Khus merespon, menyampaikan pandangan terkait cinta. “Seribu orang mungkin ada
seribu pendapat tetang cinta, namun intinya, yang penting adalah kita sendiri
punya rumusan cinta.” Menurut Mas Khus, cinta itu Power. kekuatan. Dan hanya
bisa diberikan kepada Allah, Karena Allah menciptakan kita juga atas dasar
cinta. Cinta tidak bisa diberikan kepada manusia, karena mereka semua akan
meninggalkan kita. Tanpa adanya cinta maka tak ada kebaikan yang bisa kita
lakukan.
Menurut
Mas Aman, cinta itu sesuatu yang tidak bisa diraba. “Mungkin kita bisa
merasakan saja ada cinta. Karena berlapis-lapis. Parameternya tidak jelas.
Suatu saat kita bisa menemukan cinta, tapi di saat yang lain kita menemu lagi
apa yang kita tahu itu sebagai cinta ternyata bukan.
Awalnya
ada ketertarikan terhadap sesuatu yang kemudian ada prasyarat di dalamnya. Maka
ada istilah mancing mania, bola mania dan sebagainya. Kalau kita cinta pada
tanaman ada unsur memelihara, perhatian, memberi pada tanaman tersebut. Tapi
kita tidak tahu sampai dimana batasnya. Kita mencintai sesuatu, mencintai
isteri, mencintai anak, bisa jadi itu manifestasi dari mencintai Allah.”
Cinta itu
sifat dasar manusia, sambung Mas Heru. ”Kita lahir ke dunia sudah membawa
cinta. Kalau ada kata memberi dan sebagainya itu soal aplikasi saja. Cinta juga
bisa berarti kelemahan. Kalau seorang isteri mau sesuatu, lalu kita ngalah, itu wujud cinta juga. Definisi
cinta itu ya sebanyak orang yang mendefinisikannya. Makanya perlu definisi
cinta yang jelas dulu. Kalau orang yang merasakan cinta itu sakit, dia tidak
akan mau menerima kalau cinta itu kekuatan ataupun anugerah.”
Mas
Abdur Rokhim menyatakan bahwa dari musik kita bisa mendapatkan dan menyebarkan
energi baik. Kemudian menyambungkan pembahasan cinta dari apa yang pernah
didapatkan dari Maiyah, seperti apa yang pernah disampaikan oleh Mas Sabrang
(Noe Letto) “Kalau cinta itu sifatnya meluas dan terus meluas sampai tidak ada.
Contohnya, ketika kita kecil dicubit oleh teman, lalu merasakan sakit kemudian
kita ingin mebalas. Nah, kalu dihubungkan dengan cinta, yang demikian itu
cintanya belum meluas atau-pakai bahasa Mas Sabrang- masih‘Aku’kecil. Kemudian
beranjak dewasa mulai senang dengan kekasih (pacar), dan ketika kekasih kita
disakiti orang lain, kita juga merasakan sakit, itu mulai melebar. Kemudian
menikah sampai punya anak, lalu ke keluarga, tetangga dan seterusnya sampai
“Aku”-nya hilang. Kalu menurut Mas Heru manusia punya sifat dasar cinta, Allah
menampakkan dirinya dengan wajah cinta. Icon-nya Ar-Rokhman dan Ar-Rokhim.
Meskipun Allah juga punya sifat Al Jabbar (Maha Perkasa), tapi Allah tidak
menampakkan itu. yang Allah tampakkan Kasih Sayang-Nya.”
“Berbicara tapa atau meditasi dan permenungan, kalau dibawa dalam
konteks Negara, ternyata kita juga ikut andil dalam merusak. Artinya, kalau
saya rasakan, bahwa kita sudah tidak mengenali diri kita. Dengan tapa kita
semakin gampang nyambung dengan Gusti
Allah. Mbah-mbah kita dulu sering tapa, sehingga gampang nyambung dengan Allah. Meskipun cara masing-masing orang berbeda-beda.
Tadi Mas Hamzah di lagunya juga ada menyebut hp. Kalau tapa itu teknologi
internal, hp itu teknologi eksternal.” Mas Rokhim mangakhiri pembicaraannya
dengan mengatakan bahwa kita tidak tahu kalau kita ikut merusak jangan-jangan
karena kita semakin jauh dengan diri kita, karena dalam kehidupan kita banyak
digiring untuk supaya tidak mengenali diri kita.
Mas
Aman menambahkan sebuah landasan yang ada di Maiyah, bahwa apa yang kita
lakukan tidak dalam rangka mencari ‘siapa’ yang benar, tapi kebenaran itu yang
‘bagaimana’ atau ‘apa’. Dan kita sedang mencari bareng-bareng. Kemudian melajutkan kalau dalam cinta ada termungkinkan logika dagang didalamnya. Misalkan kalau kita mencintai seseorang, tapi seolah-olah ada penuntutan, kok orang yang kita cintai tidak mencintai kita juga. “Kalau ada orang benci, itu cinta atau bagaimana? Kalau ada orang yang mengkritik, bisa jadi itu cinta.”
Batas
waktu diskusi yang telah disepakati hampir habis, kini giliran Rifki Arwanto
menggaris bawahi pembahasan diskusi. Kalau cinta adalah anugerah yang
hubungannya vertikal. “Cinta dan mencintai adalah dua hal yang berbeda. Cinta
itu muatan atau isinya, kalau mencintai sudah masuk pada komitmen. Dalam
pengantar mukadimah dijelaskan kalau cinta itu seni, maka ia butuh pengetahuan
dan usaha. Orang senang dangdut belum tentu senang mendengarkan jazz. Jazz itu
musik yang paling mahal, artinya kita butuh kecerdasan tingkat tertentu untuk
benar-benar bisa menikmati musik tersebut. Saya sendiri kadang pusing ndengerin
jazz. Kebanyakan orang sukanya menikmati dangdut atau pop.”
“Kita sering melihat tulisan I love Jogja, I love Bali, I love
Pemalang dan dan seterusnya. Apakah itu cinta?. Bisa jadi cinta bisa juga bukan
atau hanya sekedar dipakai saja. Kalau semakin banyak disimbolkan, saya kira
semakin jauh dari definisi aslinya. Tapi tetap saja, orang perlu untuk
menyimbolkan cinta. Misalnya dengan bunga, es krim, atau sesuatu yang
sebenarnya tidak kita inginkan. Kalau kita mau bakso, dan kekasih kita minta mie
ayam, akhirnya kita pilih makan mie ayam.
Bukan
karena mie ayamnya, tapi karena kita cinta pada kekasih kita. Dalam agamapun
demikian. Simbol itu ungkapan dari apa yang dia rasakan.”
“Allah menggambarkan salah dua sifatnya yang mengandung makna cinta
yaitu Ar-Rokhman dan Ar-Rokhim. Bedanya, yang pertama adalah cinta dalam arti
meluas bisa kepada siapa sja tanpa memandang apapun. Tanpa pandang bulu.
Sedangkan yang kedua cintanya mendalam. Untuk orang-orang tertentu.”
Rifki
juga menambahkan contoh dari apa yang tadi disampaikan Mas Rokhim, bahwa anak
kecil yang bermain layang-layang tidak peduli kepanasan tersengat matahari
karena dia senang. Kesenangannya sepenuhnya untuk “aku”. Ketika beranjak dewasa
dan menyukai lawan jenis, sudah ada cinta untuk membuat senang orang lain.
“Tapi disini masih ada penuntutan balasan. Sedangkan setelah menjadi orang tua
dan memiliki anak, cinta orang tua diberikan untuk kebahagiaan anaknya tanpa
mengharap ada balasan. Dan ini bukan definisi cinta tapi level cinta.”
“Kalau cinta itu anugerah perlu pencapaian untuk melakukannya. Yang
perlu kita lakukan adalah menata diri agar kompatibel atau layak untuk
dianugerahi cinta. Dan kita bisa sebut itu sebagai laku tapa, meski tapa dalam
hal ini bukan berarti meditasi. Tapi tirakat untuk melakukan apa yang disebut
evolusi spiritual dalam tapa. Kalau tidak ada tapa atau pengupayaan pada
anugerah cinta dari Allah, maka semuanya hanya ada tanpa cinta.”
Mas Rinto,
-yang kebetulan pulang ke Pemalang, bekerja sebagai editor film dan baru pertama
datang di Maiyah Kanoman- yang sedari tadi menyimak, coba mempertanyakan topik
diskusi. “Kok semuanya kemabali ke aku? jangan-jangan di dunia ini tidak ada
cinta, yang ada hanya nafsu.” Dijawab oleh Rifki, memang kembali ke “aku” tapi
levelnya berkurang dan level membaginya semakin luas. Karena yang kita lakukan
di dunia ini tidak ada yang tidak untuk “aku”. Semakin kita menghilangkan
“aku”, efeknya juga semakin besar ke “aku”. Kalu ada istilah berkorban untuk
orang lain, sebenarnya ada efek untuk orang itu sendiri meskipun tidak dia
inginkan, tetap saja ada efek yang berbalik. Dulu kalau ada seorang raja
ngomong “aku”, “aku”nya ini tidak mewakili pribadinya saja. Jadi “aku”nya
meluas.
Mas Rin
(sapaan akrabnya) kembali menanyakan, “kalau seorang bupati, misalnya, melakukan
sesuatu, apakah itu bukan karena dia menjabat itu, atas dasar jabatannya, bukan
karena orang-orang yang dipimpinnya? Kalau kita berbicara cinta dan dihubugkan
dengan Indonesia atau pemalang berarti kita juga berbicara pencapaian. Ketika
cinta dipandang sebagai anugerah, berarti harus memberikan sesuatu yang memberi
manfaat bagi yang lain. Kita juga harus memikirkan ketercapaiaan adanya
ruang-ruang untuk pemuda di pemalang. Karena tidak ada PR dari masyarakat,
termasuk bupati kearah sana.”
“Secara global, kita tidak tahu kondisi sekarang sudah seperti apa?
Karena banyak peipuan-penipuan, propaganda-propaganda yang akhirnya kita
konsumsi. Kemudian seperti apa yang tadi Rifki singgung tentang PKI yang
akhirnya tenggelam dengan do’a-do’a, apakah itu adalah sebuah kebenaran?
Sementara kalau kita melihat sejarahnya, ternyata ada perjuangan dari
tokoh-tokoh yang ada di PKI tersebut.”
Kemudian Mas Rin menceritakan pertemuanya dengan
seorang veteran marinir yang baginya cukup mengejutkan jawabannya ketika dia mengatakan
lebih banyak baca buku kiri, karena dijawab dengan kata “bagus” oleh bapak
tersebut. “Tanpa adanya orang-orang yang berfikir seperti ini (kiri), kita
Indonesia belum tentu jadi seperti ini.”
“Kalau benar sejarah yang menganggap PKI adalah sesuatu yang haram
di Indonesia dan kalau ternyata ada kebenaran lain, berarti sampai sekarang
mindset kita masih dalam doktrin-doktrin itu. terlepas dari bagaimana kita
untuk bisa menyikapi semuanya. Jadi cinta itu sebuah anugerah yang harus ada
pencapaian.”
Rifki
menanggapi pernyataan dari Mas Rin. “Kita tidak membantah juga pada kasus PKI,
karena, hal yang sudah terjadi kita belum benar-benar bisa memetakan kasus
tersebut secara objektif. Sudut pandangnya masih subjektif. Pada kasus ’65,
hari ini kita masih belum tahu kebenaran yang sesungguhnya. Jangankan hari ini,
atau yang akan datang, yang sudah lampau pun rumusannya buat kita belum jelas.
Yang bisa kita lakukan hari ini atas apa yang tidak bisa kita jangkau, yang
tidak bisa kita selesaikan, kita pasrahkan.”
Selanjutnya
Rifki arwanto meminta Mas Aman untuk ikut menjelaskan tantang cinta segitiga
maiyah sekaligus mengakhiri formal acara.
***
Sebelum
mengakhiri acara, Mas Aman memberi sedikit gambaran umum tentang diskusi yang
sedang berjalan. “Apakah cinta ada rumusannya? Di sini kita sedang coba
merumuskannya bersama dari berbagai pandangan dan analisis. Dan ketika kita
sudah tahu rumusan cinta, kemudian kita bisa mengaplikasikannya. Apilkasinya
bisa dengan cara yang sifatnya primordial, misalkan kita mencintai Pemalang.
Ada juga yang bersifat egosentris yang larinya kearah narsistik. Mencintai diri
sendiri secara berlebihan. Kita bisa melihatnya pada fenomena selfie, ketika
masih banyak yang perlu diperhatikan disekitar kita, tetapi memilih asik
sendiri.”
“Ngomongin cinta tidak mungkin terlepas dari Tuhan. Karena Tuhan
Maha Pecinta dengan salah satu sifatnya, yaitu al Wadud. Dalam hubungan
keluarga kita juga mengenal istillah sakinah,
mawaddah, warokhmah. Ada konsep cinta didalamnya. Cinta yang menetap, cinta
yang berkembang, dan cinta yang memberikan rahmat kepada sesama.”
“Cinta sebagai anugerah adalah cinta yang menurun, karena cintanya
Allah pada makhluknya. Dan Allah membikin makhluk awal yang bernama Nur
Muhammad kemudian menjelma menjadi Muhammad bin Abdullah. Muhammad bin Abdullah
adalah orang yang paling mencitai. Karena baginya sudah tidak ada dan ketika
mau meninggal yang dia sebut ummaty,
ummaty, ummaty…”
Selanjutnya
mas Aman menambahkan, “kalau tidak ada cinta, sekiranya tidak akan ada maiyahan
seperti ini. Kalau Indonesia sampai seperti sekarang ini bukan berarti tidak
ada cinta. Yang kita lihat –lihat itu bukan bukti cinta, itu bukti nafsu. Yang
kita lihat itu, cinta yang terenggut, cinta yang tersakiti, cinta yang
dirampok.”
“Kalau dalam maiyah, ada istilah Cinta Segitiga. Secara horizontal
ada kita, garisnya ke Muhammad. Secara Vertikalnya ke Gusti Allah. Kenapa
garisnya kepada Kanjeng Nabi Muhammad, karena beliau orang yang paling mencintai
(dicintai).”
“Mungkin juga ada turunannya, yaitu sesuatu atau orang-orang yang
berfungsi sebagai perantara. Bararti sesorang itu mempunyai kadar cinta yang
lebih banyak kemudian diaplikasikan kepada yang lain, sampai akhirnya bisa
merubah seseorang atau sesuatu. Yang awalnya ada ketertarikan terhadap sesuatu dan mempunyai
efek kepada lainnya, dari apa yang dilakukan terus-menerus dan dijalani,
kemudian ketertarikan-ketertarikan itu disambungkan kepada Allah atau yang
dianggap transenden. Mungkin dia tidak tahu Allah. Mungkin golongan kiri atau
yang lainnya. Kalau dilakukan terus menerus, pasti ada sesuatu yang tidak bisa
kita bayangkan, ada sesuatu yang sifatnya transenden maupun imanen dan
menguasai diri kita. Mungkin dia tidak menyebut Tuhan, Karena Allah juga
menyimbolkan diri-Nya sebagai Allah. Karena pada dasarnya kita tidak bisa
apa-apa kalau tidak ada sesuatu yang bisa menggerakkan diri kita.”
“Secara gampang, hubungan horizontalnya pada Kanjeng Nabi dan
vertikalnya pada Allah. Mau nggak mau membahas cinta harus juga mencintai.
Aplikasinya kepada pemalang atau yang lainnya kita tidak tahu yang jelas nanti
ada saja.”
***
Jarum
jam menunjuk pada angka dua lebih lima belas menit. Acara dipungkasi dengan
membawakan satu nomor Khasbunallah
bersama-sama.
Pegiat Maiyah Kanoman Pemalang
#redMKP_Jan2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar