Minggu, 07 Februari 2016

Reportase Maiyah Kanoman Pemalang|Ta[n]pa Cinta

Reportase “TA[N]PA CINTA”
Maiyah Kanoman Pemalang, Januari 2016

Hari semakin sore, hujan belum juga menunjukkan tanda akan berhenti meski demikian tidak menyurutkan semangat untuk tetap bermaiyah malam ini. Hari ini Sabtu, tanggal 30 Januari 2016 akan dilangsungkan Maiyahan yang ke 16 bertempat di Sanggar Laron Kobong, Desa Mandiraja-Kecamatan Moga-Kabupaten Pemalang.
Menjelang terbenamnya Mentari, hadirin mulai nampak berdatangan. Seperti Maiyahan sebelumnya, bahkan seolah sudah menjadi hal yang biasa, mereka berdatangan tidak dengan tangan kosong, ada yang membawa Ubi rebus, Jagung rebus, kopi, wedang jahe dan lain sebagainya. Makanan-makanan ringan bekal pribadi untuk bersama-sama nanti, dan tentunya yang lebih penting mereka datang tidak dengan Hati yang kosong, melainkan dengan cinta, untuk menyongsong berlangsungnya maiyahan.
Secara formal, maiyahan kali ini ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, karena baru dimulai sesudah memasuki waktu setengah dua belas malam. Yang sebelumnya dijadwalkan mulai jam delapan. Meskipun para hadirin sudah mulai melingkar saling berinteraksi semenjak sore. Karena para pegiat ada yang menjemput dan dua pegiat lainnya, Hadi dan Rifki selaku kordinator Maiyah Kanoman sempat terkena tilang. Para hadirin yang berada dilokasi, memilih setia menanti sejak sore hari.
***
Sesudah semuanya berkumpul, Maiyahan segera langsung dimulai. Dan melihat kondisi yang terjadi, acara dibawa sesantai mungkin meski tidak mengurangi kekhidmatan suasana. Rasanya tidak etis  dan tidak proporsional langsung dibawa ke agenda acara dan sesi diskusi. Acara yang sebelumnya diagendakan akan dimulai dengan pembacaan surat al-Qur’an, Wirid wabal dan Do’a Tahlukah, akhirnya tidak jadi dilaksanakan sepenuhnya sesuai rencana.
Mas Abdur Rokhim yang aktif mengikuti Maiyahan Kenduri Cinta hampir setiap bulannya, diminta mengawali penghaturan doa. Sebelum hadirin diajak menghaturkan do’a, Mas Abdur Rokhim menyampaikan beberapa hal terkait pengalamannya di Maiyah dan menceritakan bahwa ini kali pertamanya bisa ikut duduk melingkar di Maiyahan Kanoman pemalang, dan sengaja pulang dari Jakarta untuk mengobati rasa kangen serta keinginannya untuk bisa berkumpul. Setelah sekian lama keinginannya ditahan, baru kali ini terkabul. Selanjutnya ia berbagi informasi seputar penghaturan wirid Wabal dan doa Tahlukah sesuai apa yang diterimanya. Do’a dibuka dengan pembacaan surat al-Ikhlas, al-Falaq, serta an-Naas dilanjut dengan ya Dzal Wabal dan disusul para hadirin secara bersama.
Acara langsung dikondisikan pada pencairan suasana melalui beberapa nomor lagu. Dengan diiringi gitar yang dipetik sendiri, Mas heru mencoba apresiasi karya indie, yang dalam hal ini lagu puisi karya Fajar Merah, anaknya Wiji Tukul yang kemudian ia nyanyikan:
                                                …
karena kebenaran akan terus hidup
sekalipun kau lenyapkan
kebenaran takkan mati
aku akan tetap ada dan berlipat ganda

Dilanjutkan dengan lagu karya sendiri yang bait pertamanya terinspirasi tembang dolanan dari blok wetan di desanya, yang kemudian  ia aransemen ulang, bertajuk padhang wulan.

padhang padhang wulan
blok wetan pada dolan
aku nemu yuyu
blok wetan ayu ayu

Nomor-nomor lagu yang menghangatkan suasana tengah malam, dilanjutkan oleh Mas Hamzah. Mas Hamzah dengan Mas Heru sempat bergabung pada grup band yang sama bernama Dulkhalim Band. Sekarang mereka berkarya dengan jalurnya masing-masing. Mas hamzah juga menyanyikan lagu karya sendiri. Sebuah lagu Jawa kombinasi Sholawat yang diberi judul Jaman Wis Akhir, kegelisahannya terhadap lingkungan dijadikan sebuah lagu yang banyak mangandung sindiran tajam lewat syairnya;




kye jaman akhir akeh wong kenthir
ora pada mikir malah cengar cengir
batir nyacad batir
aduh aduh kenthir

dan dilanjut dengan nomor keduanya, yaitu Cintaku Lukaku.
Usai nomor-nomor lagu dinyanyikan, Mas Aman coba merespon lagu cintaku lukaku dengan menyampaikan pemaknaan-pemaknaan syairnya, yang dipararelkan dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang.
Disusul respon Mas Heru yang mengatakan: “kalau ada istilah yang mengatakan: sampaikanlah walau satu ayat, di Dulkhalim Band ada ungkapan, sampaikanlah walau satu nada”. Kemudian Mas Heru melanjutkan bahwa kita belajar bersama, yang ngajarin tidak ada, dan ketika kita berkarya dan digabungkan mungkin bisa menemu musik yang sama. Tapi kalau kita berkarya sendiri, musik yang kita hasilkan bisa berbeda, karena itu pengaruh dari apa yang kita konsumsi. Kemudian Mas Heru berharap mudah-mudahan apa yang kita konsumsi dari hal-hal yang positif, bisa menghasilkan sesuatu yang positif pula. 
Tanggapan disusul lagi oleh Mas Aman, dengan mengandaikan jagung rebus yang ada di tengah-tengah hadirin itu yang dikonsumsi isinya, bukan kulitnya. Sesuatu itu juga bisa dipandang sebagai kulit atau isi, tergantung dari bagaimana cara kita memaknainya.
Suasana maiyahan terbangun seperti saut-sautan burung. Susul menyusul saling menanggapi. Para hadirin terlihat nyaman.
Setelah suasana nyaman terbangun, Rifki Arwanto memulai sesi pengantar untuk permulaan memasuki tema yang disiapkan malam ini. Seperti biasanya, uraian terkait kegelisahan yang memunculkan tema disampaikan dengan dasar-dasar penarikan kerangka berpikir agar diskusi  tidak menjadi bias.
Sebelum memasuki tema diskusi lebih dalam, Rifki Arwanto mengapresiasi atas lagu-lagu yang ditembangkan tadi dari hasil karya sendiri, meskipun ada karya anaknya Wiji Tukul juga. Dengan rendah hati ia sampaikan bahwa rencana kita belum mesti berkesesuaian dengan rencana Allah. Acara maiyahan malam ini, yang sedianya dimulai jam delapan, ternyata ada peristiwa-peristiwa yang “menghalangi” termasuk tilang. Tidak terjadinya pembacaan wirid wabal, surat, dan sebagainya yang sudah direncanakan, barangkali itu pertanda wabal dari Allah. Belum wabal-wabalan sudah terwabal dulu.”
Kemudian disampaikan yang penting untuk dibagikan informasinya bagi hadirin yang datang, karena belum semua hadirin mengenal maiyah. “Wirid Tahlukah muncul pada tahun 2013, dan Wabal tahun 2016. Dari Maiyah membikin edaran untuk diamalkan sepanjang 2016. Di jogja (Macapat Syafaat) dijelaskan oleh Cak Nun, kalau melihat sejarahnya Indonesia tahun ’65, faktor PKI tumbang, salah satunya karena diamalkan Hizib Nashr di Indonesia. Ulama-ulama dan lembaganya, NU melalui NU-nya, Muhammadiyah melalui Muhammadiyahnya, mewajibkan membaca Hizib Nashr secara khusus, di tempat-tempat dan waktu-waktu tertentu. Jadi ada faktor langit juga yang berperan waktu itu. Hizib Nashr atau yang lain, isinya penghancuran, atau kita menginkan mereka itu dilemahkan, aksesnya dihilangkan, atau tenaganya dihilangkan.”
“Cak Nun sendiri mengatakan, kalau beliau hatinya tidak tega. Tidak punya kekuatan untuk hal-hal yang seperti itu, maka, keluarlah Wirid Wabal. Yang dinamakan juga Wirid Akhlaqi. Jadi, yang diminta itu bukan orangnya yang hancur atau tetep seperti itu, tapi akhlaqnya yang dirubah. Memintakan hidayah untuk yang dirubah akhlaqnya. Datangnya hidayah sendiri bagaimana, itu urusannya Gusti Allah. Bisa lewat ditabrak mobil dulu baru sadar, itu urusannya Allah, tapi kita tidak meminta orang-orang ditabrak mobil. Ditilang dulu baru sadar. Dan ternyata SIM itu penting”. Candanya untuk merespon kejadian yang baru saja ditimpanya, membuat Gerrr hadirin semua.
Begitulah Rifki Arwanto menjelaskan sekilas tentang Wirid Wabal. “Tata cara pembacaannya dicontohkan di Jakarta, di Jogja, di Jombang, dan di Surabaya. Yang disebarkan itu Wirid Tahlukah dan wabalnya. Selain itu boleh memilih surat apapun di al-Qur’an sesuai hajat, sesuai kebutuhan, sesuai skala ketidakmampuan urusan yang tidak bisa kita hadapi. Mungkin skalanya keluarga, desa dan seterusnya. Tidak ada aturan main yang khusus. Jadi bentuk do’anya seperti ini, silahkan diamalkan.”
Rifki menambahkan bahwa Cak Nun menyampaikan kalau wirid ini tidak melalui ijazah-ijazahan. “Wong kiye  wis metu, ya dudu nggone aku” tirunya. “Dadi ora perlu poyan, ora apa. Intinya ini, kalau untuk simpul Maiyah yang sudah ada namanya seperti Maiyah Kanoman direkomendasikan untuk membacanya. Dan tidakpun, juga tidak masalah. Tapi direkomendasikan sepanjang 2016 untuk membaca, dengan harapan bahwa banyak hal di Negara dan Bangsa ini yang sudah di luar batas kemampuan diri kita untuk menghadapinya. Jadi kita meminta kepada Allah semoga dengan tirakat kita ini, dengan tapa, dengan mendekatkan kepada Allah seperti ini, semoga tahun 2016 ini selesai. Kalau ternyata selesai tahun 2016 keadaannya masih seperti ini, berarti Allah mengizinkan untuk kita ngrampungi dengan cara kita. Bahasanya seperti itu. Rencanane kaya apa, nyong naha ora ngerti, mbokan ana rencana dhewek ning kanane.”
“Itulah hal terkait Tahlukah dan Wabal. Tahlukah itu peluru. Hulu ledaknya Wabal. Busur dan anak panahnya. Untuk melesatkan kita perlu perangkat-perangkat itu.”
Selanjutnya masuk pada tema TA[N]PA CINTA menjadi ikhtiar bersama agar teman-teman menggali kembali serta menyusun ulang paradigma cinta. Soalnya dengan melihat pemberitaan serta realitas yang ada, apakah itu cinta?. Pertanyaan-pertanyaan mendasar, beragam simbol dan tindakan sebagai ungkapan ekspresi cinta disampaikan. Definisi-definisi cinta dipertanyakan kembali untuk mengetahui secara jauh dan dalam pengetahuan tentang cinta.
Sesudah Rifki selaku pemandu diskusi menyampaikan kerangka fikir tentang cinta, kemudian coba memancing yang hadir untuk terlibat dalam pembahasan tema. “Yang penting adalah kita bisa kumpul dan sinau bareng. Syukur nantinya ada yang bisa dibawa pulang dan bermanfaat, yang tentu porsinya berbeda-beda. Lebih lanjut Rifki menambahkan kalau di maiyah, yang dirasakan, tidak pernah merubah bentuk manusia. Maksudnya, Kalau orang musik, mungkin dapat feel-nya ketika berada di maiyah. Atau yang tasawuf, yang suka toriqotan, yang suka film. Kalau di forum-forum yang sudah besar, disana bisa ditemukan hampir mencakup semua apa yang dibutuhkan orang yang datang. Jadi ketika pulang bisa menambah kuat karakter. Tidak merubah karakter dari orang tersebut. Jadi kalau malam ini mau dibawa pada ruang yang sama, ya wagu. Kalau berangkat dari ayam, masa pulang jadi bebek. Harapannya itu, jadi disini saling berbagi dari sudut pandang masing-masing.”
Rifki selaku moderator mulai menyerahkan pada hadirin untuk ikut berbagi pandangannya tentang cinta.

Mas Khus merespon, menyampaikan pandangan terkait cinta. “Seribu orang mungkin ada seribu pendapat tetang cinta, namun intinya, yang penting adalah kita sendiri punya rumusan cinta.” Menurut Mas Khus, cinta itu Power. kekuatan. Dan hanya bisa diberikan kepada Allah, Karena Allah menciptakan kita juga atas dasar cinta. Cinta tidak bisa diberikan kepada manusia, karena mereka semua akan meninggalkan kita. Tanpa adanya cinta maka tak ada kebaikan yang bisa kita lakukan.
Menurut Mas Aman, cinta itu sesuatu yang tidak bisa diraba. “Mungkin kita bisa merasakan saja ada cinta. Karena berlapis-lapis. Parameternya tidak jelas. Suatu saat kita bisa menemukan cinta, tapi di saat yang lain kita menemu lagi apa yang kita tahu itu sebagai cinta ternyata bukan.
Awalnya ada ketertarikan terhadap sesuatu yang kemudian ada prasyarat di dalamnya. Maka ada istilah mancing mania, bola mania dan sebagainya. Kalau kita cinta pada tanaman ada unsur memelihara, perhatian, memberi pada tanaman tersebut. Tapi kita tidak tahu sampai dimana batasnya. Kita mencintai sesuatu, mencintai isteri, mencintai anak, bisa jadi itu manifestasi dari mencintai Allah.”
Cinta itu sifat dasar manusia, sambung Mas Heru. ”Kita lahir ke dunia sudah membawa cinta. Kalau ada kata memberi dan sebagainya itu soal aplikasi saja. Cinta juga bisa berarti kelemahan. Kalau seorang isteri mau sesuatu, lalu kita ngalah, itu wujud cinta juga. Definisi cinta itu ya sebanyak orang yang mendefinisikannya. Makanya perlu definisi cinta yang jelas dulu. Kalau orang yang merasakan cinta itu sakit, dia tidak akan mau menerima kalau cinta itu kekuatan ataupun anugerah.”
Mas Abdur Rokhim menyatakan bahwa dari musik kita bisa mendapatkan dan menyebarkan energi baik. Kemudian menyambungkan pembahasan cinta dari apa yang pernah didapatkan dari Maiyah, seperti apa yang pernah disampaikan oleh Mas Sabrang (Noe Letto) “Kalau cinta itu sifatnya meluas dan terus meluas sampai tidak ada. Contohnya, ketika kita kecil dicubit oleh teman, lalu merasakan sakit kemudian kita ingin mebalas. Nah, kalu dihubungkan dengan cinta, yang demikian itu cintanya belum meluas atau-pakai bahasa Mas Sabrang- masih‘Aku’kecil. Kemudian beranjak dewasa mulai senang dengan kekasih (pacar), dan ketika kekasih kita disakiti orang lain, kita juga merasakan sakit, itu mulai melebar. Kemudian menikah sampai punya anak, lalu ke keluarga, tetangga dan seterusnya sampai “Aku”-nya hilang. Kalu menurut Mas Heru manusia punya sifat dasar cinta, Allah menampakkan dirinya dengan wajah cinta. Icon-nya Ar-Rokhman dan Ar-Rokhim. Meskipun Allah juga punya sifat Al Jabbar (Maha Perkasa), tapi Allah tidak menampakkan itu. yang Allah tampakkan Kasih Sayang-Nya.”
“Berbicara tapa atau meditasi dan permenungan, kalau dibawa dalam konteks Negara, ternyata kita juga ikut andil dalam merusak. Artinya, kalau saya rasakan, bahwa kita sudah tidak mengenali diri kita. Dengan tapa kita semakin gampang nyambung dengan Gusti Allah. Mbah-mbah kita dulu sering tapa, sehingga gampang nyambung dengan Allah. Meskipun cara masing-masing orang berbeda-beda. Tadi Mas Hamzah di lagunya juga ada menyebut hp. Kalau tapa itu teknologi internal, hp itu teknologi eksternal.” Mas Rokhim mangakhiri pembicaraannya dengan mengatakan bahwa kita tidak tahu kalau kita ikut merusak jangan-jangan karena kita semakin jauh dengan diri kita, karena dalam kehidupan kita banyak digiring untuk supaya tidak mengenali diri kita.
Mas Aman menambahkan sebuah landasan yang ada di Maiyah, bahwa apa yang kita lakukan tidak dalam rangka mencari ‘siapa’ yang benar, tapi kebenaran itu yang ‘bagaimana’ atau ‘apa’. Dan kita sedan

g mencari bareng-bareng. Kemudian melajutkan kalau dalam cinta ada termungkinkan logika dagang didalamnya. Misalkan kalau kita mencintai seseorang, tapi seolah-olah ada penuntutan, kok orang yang kita cintai tidak mencintai kita juga. “Kalau ada orang benci, itu cinta atau bagaimana? Kalau ada orang yang mengkritik, bisa jadi itu cinta.”

Batas waktu diskusi yang telah disepakati hampir habis, kini giliran Rifki Arwanto menggaris bawahi pembahasan diskusi. Kalau cinta adalah anugerah yang hubungannya vertikal. “Cinta dan mencintai adalah dua hal yang berbeda. Cinta itu muatan atau isinya, kalau mencintai sudah masuk pada komitmen. Dalam pengantar mukadimah dijelaskan kalau cinta itu seni, maka ia butuh pengetahuan dan usaha. Orang senang dangdut belum tentu senang mendengarkan jazz. Jazz itu musik yang paling mahal, artinya kita butuh kecerdasan tingkat tertentu untuk benar-benar bisa menikmati musik tersebut. Saya sendiri kadang pusing ndengerin jazz. Kebanyakan orang sukanya menikmati dangdut atau pop.”
“Kita sering melihat tulisan I love Jogja, I love Bali, I love Pemalang dan dan seterusnya. Apakah itu cinta?. Bisa jadi cinta bisa juga bukan atau hanya sekedar dipakai saja. Kalau semakin banyak disimbolkan, saya kira semakin jauh dari definisi aslinya. Tapi tetap saja, orang perlu untuk menyimbolkan cinta. Misalnya dengan bunga, es krim, atau sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan. Kalau kita mau bakso, dan kekasih kita minta mie ayam, akhirnya kita pilih makan mie ayam.
Bukan karena mie ayamnya, tapi karena kita cinta pada kekasih kita. Dalam agamapun demikian. Simbol itu ungkapan dari apa yang dia rasakan.” 
“Allah menggambarkan salah dua sifatnya yang mengandung makna cinta yaitu Ar-Rokhman dan Ar-Rokhim. Bedanya, yang pertama adalah cinta dalam arti meluas bisa kepada siapa sja tanpa memandang apapun. Tanpa pandang bulu. Sedangkan yang kedua cintanya mendalam. Untuk orang-orang tertentu.”
Rifki juga menambahkan contoh dari apa yang tadi disampaikan Mas Rokhim, bahwa anak kecil yang bermain layang-layang tidak peduli kepanasan tersengat matahari karena dia senang. Kesenangannya sepenuhnya untuk “aku”. Ketika beranjak dewasa dan menyukai lawan jenis, sudah ada cinta untuk membuat senang orang lain. “Tapi disini masih ada penuntutan balasan. Sedangkan setelah menjadi orang tua dan memiliki anak, cinta orang tua diberikan untuk kebahagiaan anaknya tanpa mengharap ada balasan. Dan ini bukan definisi cinta tapi level cinta.”
“Kalau cinta itu anugerah perlu pencapaian untuk melakukannya. Yang perlu kita lakukan adalah menata diri agar kompatibel atau layak untuk dianugerahi cinta. Dan kita bisa sebut itu sebagai laku tapa, meski tapa dalam hal ini bukan berarti meditasi. Tapi tirakat untuk melakukan apa yang disebut evolusi spiritual dalam tapa. Kalau tidak ada tapa atau pengupayaan pada anugerah cinta dari Allah, maka semuanya hanya ada tanpa cinta.”
Mas Rinto, -yang kebetulan pulang ke Pemalang, bekerja sebagai editor film dan baru pertama datang di Maiyah Kanoman- yang sedari tadi menyimak, coba mempertanyakan topik diskusi. “Kok semuanya kemabali ke aku? jangan-jangan di dunia ini tidak ada cinta, yang ada hanya nafsu.” Dijawab oleh Rifki, memang kembali ke “aku” tapi levelnya berkurang dan level membaginya semakin luas. Karena yang kita lakukan di dunia ini tidak ada yang tidak untuk “aku”. Semakin kita menghilangkan “aku”, efeknya juga semakin besar ke “aku”. Kalu ada istilah berkorban untuk orang lain, sebenarnya ada efek untuk orang itu sendiri meskipun tidak dia inginkan, tetap saja ada efek yang berbalik. Dulu kalau ada seorang raja ngomong “aku”, “aku”nya ini tidak mewakili pribadinya saja. Jadi “aku”nya meluas.
Mas Rin (sapaan akrabnya) kembali menanyakan, “kalau seorang bupati, misalnya, melakukan sesuatu, apakah itu bukan karena dia menjabat itu, atas dasar jabatannya, bukan karena orang-orang yang dipimpinnya? Kalau kita berbicara cinta dan dihubugkan dengan Indonesia atau pemalang berarti kita juga berbicara pencapaian. Ketika cinta dipandang sebagai anugerah, berarti harus memberikan sesuatu yang memberi manfaat bagi yang lain. Kita juga harus memikirkan ketercapaiaan adanya ruang-ruang untuk pemuda di pemalang. Karena tidak ada PR dari masyarakat, termasuk bupati kearah sana.”
“Secara global, kita tidak tahu kondisi sekarang sudah seperti apa? Karena banyak peipuan-penipuan, propaganda-propaganda yang akhirnya kita konsumsi. Kemudian seperti apa yang tadi Rifki singgung tentang PKI yang akhirnya tenggelam dengan do’a-do’a, apakah itu adalah sebuah kebenaran? Sementara kalau kita melihat sejarahnya, ternyata ada perjuangan dari tokoh-tokoh yang ada di PKI tersebut.”
Kemudian  Mas Rin menceritakan pertemuanya dengan seorang veteran marinir yang baginya cukup mengejutkan jawabannya ketika dia mengatakan lebih banyak baca buku kiri, karena dijawab dengan kata “bagus” oleh bapak tersebut. “Tanpa adanya orang-orang yang berfikir seperti ini (kiri), kita Indonesia belum tentu jadi seperti ini.”
“Kalau benar sejarah yang menganggap PKI adalah sesuatu yang haram di Indonesia dan kalau ternyata ada kebenaran lain, berarti sampai sekarang mindset kita masih dalam doktrin-doktrin itu. terlepas dari bagaimana kita untuk bisa menyikapi semuanya. Jadi cinta itu sebuah anugerah yang harus ada pencapaian.” 
Rifki menanggapi pernyataan dari Mas Rin. “Kita tidak membantah juga pada kasus PKI, karena, hal yang sudah terjadi kita belum benar-benar bisa memetakan kasus tersebut secara objektif. Sudut pandangnya masih subjektif. Pada kasus ’65, hari ini kita masih belum tahu kebenaran yang sesungguhnya. Jangankan hari ini, atau yang akan datang, yang sudah lampau pun rumusannya buat kita belum jelas. Yang bisa kita lakukan hari ini atas apa yang tidak bisa kita jangkau, yang tidak bisa kita selesaikan, kita pasrahkan.”
Selanjutnya Rifki arwanto meminta Mas Aman untuk ikut menjelaskan tantang cinta segitiga maiyah sekaligus mengakhiri formal acara.
***
Sebelum mengakhiri acara, Mas Aman memberi sedikit gambaran umum tentang diskusi yang sedang berjalan. “Apakah cinta ada rumusannya? Di sini kita sedang coba merumuskannya bersama dari berbagai pandangan dan analisis. Dan ketika kita sudah tahu rumusan cinta, kemudian kita bisa mengaplikasikannya. Apilkasinya bisa dengan cara yang sifatnya primordial, misalkan kita mencintai Pemalang. Ada juga yang bersifat egosentris yang larinya kearah narsistik. Mencintai diri sendiri secara berlebihan. Kita bisa melihatnya pada fenomena selfie, ketika masih banyak yang perlu diperhatikan disekitar kita, tetapi memilih asik sendiri.”
“Ngomongin cinta tidak mungkin terlepas dari Tuhan. Karena Tuhan Maha Pecinta dengan salah satu sifatnya, yaitu al Wadud. Dalam hubungan keluarga kita juga mengenal istillah sakinah, mawaddah, warokhmah. Ada konsep cinta didalamnya. Cinta yang menetap, cinta yang berkembang, dan cinta yang memberikan rahmat kepada sesama.”   
“Cinta sebagai anugerah adalah cinta yang menurun, karena cintanya Allah pada makhluknya. Dan Allah membikin makhluk awal yang bernama Nur Muhammad kemudian menjelma menjadi Muhammad bin Abdullah. Muhammad bin Abdullah adalah orang yang paling mencitai. Karena baginya sudah tidak ada dan ketika mau meninggal yang dia sebut ummaty, ummaty, ummaty…”
Selanjutnya mas Aman menambahkan, “kalau tidak ada cinta, sekiranya tidak akan ada maiyahan seperti ini. Kalau Indonesia sampai seperti sekarang ini bukan berarti tidak ada cinta. Yang kita lihat –lihat itu bukan bukti cinta, itu bukti nafsu. Yang kita lihat itu, cinta yang terenggut, cinta yang tersakiti, cinta yang dirampok.”
“Kalau dalam maiyah, ada istilah Cinta Segitiga. Secara horizontal ada kita, garisnya ke Muhammad. Secara Vertikalnya ke Gusti Allah. Kenapa garisnya kepada Kanjeng Nabi Muhammad, karena beliau orang yang paling mencintai (dicintai).”
“Mungkin juga ada turunannya, yaitu sesuatu atau orang-orang yang berfungsi sebagai perantara. Bararti sesorang itu mempunyai kadar cinta yang lebih banyak kemudian diaplikasikan kepada yang lain, sampai akhirnya bisa merubah seseorang atau sesuatu. Yang awalnya ada  ketertarikan terhadap sesuatu dan mempunyai efek kepada lainnya, dari apa yang dilakukan terus-menerus dan dijalani, kemudian ketertarikan-ketertarikan itu disambungkan kepada Allah atau yang dianggap transenden. Mungkin dia tidak tahu Allah. Mungkin golongan kiri atau yang lainnya. Kalau dilakukan terus menerus, pasti ada sesuatu yang tidak bisa kita bayangkan, ada sesuatu yang sifatnya transenden maupun imanen dan menguasai diri kita. Mungkin dia tidak menyebut Tuhan, Karena Allah juga menyimbolkan diri-Nya sebagai Allah. Karena pada dasarnya kita tidak bisa apa-apa kalau tidak ada sesuatu yang bisa menggerakkan diri kita.”
“Secara gampang, hubungan horizontalnya pada Kanjeng Nabi dan vertikalnya pada Allah. Mau nggak mau membahas cinta harus juga mencintai. Aplikasinya kepada pemalang atau yang lainnya kita tidak tahu yang jelas nanti ada saja.”
***
Jarum jam menunjuk pada angka dua lebih lima belas menit. Acara dipungkasi dengan membawakan satu nomor Khasbunallah bersama-sama.  

Pegiat Maiyah Kanoman Pemalang

#redMKP_Jan2016