Selasa, 06 Desember 2016

YANG MENANG HARUS BANGSA INDONESIA


(Tulisan ke-1 dari 10)
Beberapa bulan terakhir ini bangsa Indonesia seperti sedang suntuk bermain togel: 411, 1911, 212, 412, 1012 dan mungkin akan berlanjut ke situasi yang bukan dramatisasi harmoni angka-angka, malah mungkin benturan antara angka dengan angka.

Pada mulanya, setiap pergerakan, setiap peristiwa, unjuk eksistensi, perjuangan dan jihad, berderap dengan tema
 “benar atau salah” dan atau “baik atau buruk”. Setibanya di jalanan dan lapangan, titik berat tematik bergeser menjadi “kalah atau menang”. Lapangan dan jalanan juga ikut menjelma jadi Padang Kurusetra. Hanya saja Bharata Yudha belum akan berlangsung, karena Arjuna sedang berdebat dengan Prabu Krisna, sais kereta perangnya. Sementara Adipati Karna sudah mantap dan sejak jauh sebelumnya sudah menguasai medan perang, secara teritorial, stok mesiu, gelar dan strategi perang, maupun kelimpahan dapur umumnya.Mungkin bangsa Indonesia sedang mencari dirinya sendiri. Sedang melacak kembali siapa sebenarnya mereka, dari berbagai view nilai, konteks, titik berat, gravitasi eksistensi dan pemetaan sejarah, cara pandang, sisi pandang, sudut pandang, jarak pandang, bahkan resolusi pandang. Masing-masing kelompok merasa apa yang dilakukannya adalah kebenaran. Masing-masing golongan meyakini bahwa merekalah gravitasi nasionalisme Indonesia, wajah merekalah yang benar-benar Bhinneka Tunggal Ika. Dan sesama massa yang meneriakkan “NKRI harga mati” akan bertabrakan. Yang memekikkan “Allahu Akbar” mengepalkan tinju ke massa di seberang yang juga memekikkan “Allahu Akbar”.
Sedangkan Panglima Drestajumena masih sibuk menoleh ke kanan ke kiri, ke depan dan ke belakang, merasakan ke mana angin bertiup. Adapun para Punakawan, Semar Gareng Petruk Bagong duduk bersila bercengkerama di gelaran tikar awan di angkasa, bersama Wisanggeni (Wasi’un Ghoniyyun) yang dilarang ikut perang. Terkadang Ontoseno juga muncul dari bawah tanah ikut nimbrung. Terkadang mereka menangis bersama, gero-gero menangisi “Ibu Pertiwi sudah tidak berkenan mengayomi lagi”. Di saat lain mereka tertawa terpingkal-pingkal: “Pemerintah kok merasa Negara. Pedang kok dipakai mencangkul. Keris kok dilecehkan….”. Negara tanpa kaji (presisi), Bangsa kehilangan aji (harga diri), Satria sirna nyali (keberanian revolusi).
Mudah-mudahan tidak terlalu jauh simbolisme dalam tulisan ini. Saya yakin semua memiliki daya assosiasi, proyeksi dan identifikasi dari perumpamaan-perumpamaan ini ke peta fakta kenegaraan dan kebangsaan yang sedang sangat nyata mengepung kita.
411, 1911, 212, 412, 1012 dan berikut-berikutnya adalah saling-silang atau silang sengkarut bias dan dispresisi. Di arena yang sangat gaduh itu terdengar suara-suara berseliweran tantang menantang, kutuk mengutuk yang disamarkan, serta kebencian dan permusuhan yang dieufemisasikan. Kata-kata kebenaran dan kepahlawanan diteriakkan oleh semua dan masing-masing. Semua berkata sama, tetapi produknya bukan “benere bebarengan” (benarnya bareng-bareng, benarnya semua orang, kebenaran kolektif koordinatif), melainkan “benere dhewe” (benarnya sendiri-sendiri), sehingga semua pihak terdesak mundur ke belakang, menjauh dari “bener sing sejati” (benar yang sejati): misalnya “yang menang harus Bangsa Indonesia”.
Ada yang sangat meyakini “benar atau salah” dan “baik atau buruk” tanpa sadar bahwa langkahnya adalah “kalah atau menang”. Yang sadar bahwa gerakannya adalah “kalah atau menang”, tidak lengkap juga pemahamannya pada momentum-momentum dan konteks mikro atau makronya: tidak punya presisai apakah ia sedang menang atau kalah, sedang mulia ataukah hina, seharusnya malu ataukah bangga, semestinya rendah hati ataukah jumawa. Masing-masing nggembol potensi dan kadar “mbegugug ngutowaton” ( pokoknya saya yang pasti benar) serta “adigang adigung adiguna” (menerjang, menaklukkan, menguasai).
Secara sederhana bangsa Indonesia, sebagai warganegara, sebagai rakyat maupun sebagai manusia, sedang diaduk-aduk oleh lipatan-lipatan masalah, krusialitas dan khaos nilai, tikungan dan telikungan pemaknaan atas segala sesuatu yang berlangsung. Tidak mengerti beda antara hemat dengan pelit. Antara konsisten dengan tidak move-on. Antara istiqamah dengan kepala batu. Antara kebenaran Quran dengan relativitas tafsirnya. Antara ramah tamah dengan taktik penipuan. Antara sopan santun dengan penjebakan. Antara blusukan dengan penaklukan. Antara Malaikat dengan Iblis. Karena Malaikat tidak punya keperluan untuk menyamar jadi Iblis. Sedangkan Iblis sangat tekun mempelajari teknik perilaku, strategi komunikasi, hingga performa dan pencitraan, yang tujuannya membuat manusia menyangka ia adalah Malaikat.
Bahkan para pemimpin ketika berkata dan berbuat, tidak recheck apakah yang diekspresikannya itu nasionalisme Indonesia, ataukah garis tugas korpsnya, kepentingan golongannya, kenyamanan jalan kariernya, ataukah nafsu pribadinya. Yang paling bencana adalah kalau ada pemimpin yang “tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti”, karena ia hanya digerakkan oleh Siluman yang sangat mengerti, dan mengerti bahwa mereka mengerti. Padahal harapan rakyat minimal ada pemimpin yang “tidak mengerti tapi mengerti bahwa ia tidak mengerti”. Atau mending “yang mengerti tapi tidak mengerti bahwa ia mengerti”. Syukur yang “mengerti dan mengerti bahwa ia mengerti”.
Sumber: https://caknun.com/2016/yang-menang-harus-bangsa-indonesia/

Senin, 05 Desember 2016

Jadwal dan Agenda Maiyah Bulan Desember 2016

Tadabburan bersama Cak Nun KiaiKanjeng • Haul Kyai Haromain ke 39

07 Desember 2016 • 13:00 WIB
Sumberarum, Jaken, PatiJateng

Tadabburan bersama Cak Nun KiaiKanjeng • Harlah Yayasan Nurul Islam

08 Desember 2016 • 19:30 WIB
Lap. Pongangan
Manyar, GresikJatim

Majlis Masyarakat Maiyah: Kenduri Cinta

09 Desember 2016 • 20:00 WIB
Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya No. 73 Jakarta PusatDKI Jakarta

Ngaji Bareng Cak Nun KiaiKanjeng • Maulid Nabi 1438 H

11 Desember 2016 • 19:30 WIB
Bengkeng, Mereng, Warungpring, PemalangJateng

Tadabburan bersama Cak Nun KiaiKanjeng • 70 tahun Condongcatur

13 Desember 2016 • 19:30 WIB
Kantor Desa
Condongcatur, Depok, SlemanYogyakarta

Majlis Masyarakat Maiyah: Padhangmbulan

14 Desember 2016 • 20:00 WIB
Menturo, Sumobito, JombangJatim

Majlis Masyarakat Maiyah: Bangbang Wetan

15 Desember 2016 • 20:00 WIB
Pendopo Cak Durasim
Jl. Genteng Kali 85, Genteng, SurabayaJatim

Majlis Masyarakat Maiyah: Mocopat Syafaat

17 Desember 2016 • 20:00 WIB
TKIT Alhamdulillah
Tamantirto, Kasihan, BantulYogyakarta

Majlis Masyarakat Maiyah: Gambang Syafaat

25 Desember 2016 • 20:00 WIB
Komp. Masjid Baiturrahman
Jl. Pandanaran No. 126 Simpanglima, SemarangJateng

Ngaji Bareng Cak Nun KiaiKanjeng

30 Desember 2016 • 19:30 WIB
Lap. Gulun
Taman, MadiunJatim

Tadabburan Bersama Cak Nun KiaiKanjeng • Refleksi Akhir Tahun

31 Desember 2016 • 19:30 WIB
RSAL. Dr. Ramelan
Jn. Gadung No.1, Jagir, Wonokromo, SurabayaJatim

Tadabburan bersama Cak Nun KiaiKanjeng • Gelar Budaya Desa Lumbungrejo

02 Januari 2017 • 19:30 WIB
Lap. Desa
Lumbungrejo, Tempel, SlemanYogyakarta
Catatan:
Jadwal di update setiap saat dan dapat berubah sewaktu-waktu.

“Bukan Demokrasi Benar Menusuk Kalbu”


Akan tetapi ada tiga hal yang akhirnya melahirkan rubrik “Wong-wongan” ini. Pertama, seluruh kegiatan Maiyah tetaplah berada di wilayah Indonesia, sehingga tidak mungkin tidak mengalami persentuhan dengan masalah-masalah Indonesia. Resikonya Jamaah Maiyah memerlukan proses pengilmuan yang setepat-tepatnya atas segala perkembangankeadaan Indonesia. Kedua, mayoritas Jamaah Maiyah adalah bangsa Indonesia, sehingga berposisi sunnah untuk berempati kepada segala sisi kebangunan Indonesia, di luar kemungkinan untuk menjadi wajib karena dimandati untuk mengurusinya. Ketiga, Cak Nun tidak pernah mau ‘usil’ untuk ikut campur atas setiap perkembangan Indonesia, sehingga Redaktur Maiyah menempatkannya sebagai pihak yang ditanyai atau diwawancarai tentang sejumlah hal aktual Indonesia, untuk pembekalan ilmu Jamaah Maiyah.
Seluruh isi CAKNUN.COM dan aktivitas rutin Maiyah di berbagai tempat pada prinsipnya adalah pengolahan ilmu kehidupan di dan oleh kalangan masyarakat Maiyah sendiri. Karena mungkin memang tidak diperlukan oleh kalangan yang lebih luas, apalagi bangsa dan masyarakat Indonesia, Cak Nun meniatinya “untuk anak cucu dan Jamaah Maiyah”. 
(Redaktur Maiyah).

Di tengah riuh rendah proses menuju Pemilukada DKI Jaya, apa pendapat Cak Nun tentang ucapan Nusron di forum ILC “Sesudah Ahok Minta Maaf”?
Saya yakin akurasi masalahnya tidak pada apa yang diucapkan oleh Nusron. Apapun yang dia ucapkan, itu akibat. Yang perlu kita temukan adalah sebab-nya. Nusron, juga Ahok, bahkan Presiden dan Pemerintah secara keseluruhan, tidaklah benar-benar ada dan hadir sebagai dirinya sendiri, melainkan merupakan representasi dari semacam sindikasi kekuatan dan niat kekuasaan serta modal sangat besar di belakangnya. Dengan idiom lain: Nusron hanya peluru, bukan bedilnya. Dia hanya mercon, ada tangan yang melemparkan dan membantingnya.
Kalau ada mercon yang tampak dan ada pembantingnya yang tidak tampak, apa tidak berarti bertentangan dengan azas transparansi?
Ini bagian yang tidak bisa kita tolak dari dialektika dan romantika proses berdemokrasi. Perjuangan untuk mencapai transparansi dalam berdemokrasi sangat kita puji, tetapi yang bisa dicapai hanyalah sebatas maksimalisasi transparansi. Tetapi secara alamiah kehidupan ini terdiri atas ketidak-seimbangan yang sangat timpang dan curam, di mana faktor yang tersembunyi jauh lebih banyak dibanding yang transparan. Musuh utama manusia adalah ketidaktahuan, musuh yang paling menakutkan dalam peperangan adalah pasukan siluman.
Apakah hakekat alamiah kehidupan semacam itu membolehkan Negara dikuasai dan dikelola oleh siluman-siluman?
Berdemokrasi adalah pilihan yang kita ambil untuk penyelenggaraan dunia politik. Bobot utama politik yang bisa dicapai sampai saat ini adalah kekuasaan yang dipertarungkan. Perangkat utama pertarungan itu adalah kekuatan modal, massa atau publik, dan nilai. Kemudian karena hilir persaingan politik adalah kemenangan dan kekuasaan, bukan kebenaran dan keadilan, maka banyak output sosial demokrasi yang sangat menyakitkan rakyat. Masih pada ‘semester’ itulah demokrasi kita. Ada puisi Chairil Anwar “bukan kematian benar yang menusuk kalbu, keridlaanmu menerima segala tiba“. Bukan demokrasi benar yang menusuk kalbu, sehingga susah menerima segala tiba….
Kembali ke Pemilukada DKI, apakah bunyi letusan mercon dipandu oleh pembanting mercon?
Memang si pembanting mercon tidak memberi panduan persis sampai detail ucapan-ucapan, tapi si Mercon memiliki kecerdasan yang terbatas untuk menerjemahkan peta kemauan si pembanting mercon.
Apa yang sebaiknya dilakukan oleh mereka yang gerah oleh bunyi mercon?
Kalau kamu tidak setuju pada bunyi mercon itu, mungkin tak apa lantas banting mercon ke mercon, tetapi sesungguhnya sasaran primernya adalah pembanting mercon. Bangsa Indonesia, terutama Ummat Islam perlu mulai berpikir strategis, dan jangan terjebak pada cara-cara pandang simbolis. Perlu mengenali pola-pola ekspressi yang tidak hanya linier, mempelajari yang zigzag, lipatan, siklikal, lalulintas bola bilyard dan macam-macam lagi. Istilah lain: jangan hanya berpedoman pada penampakan wajhiyah (yang tampak di permukaan) atau wujudiyah (yang tampil di panggung). Melainkan perlu meneliti secara siyasiyah (lipatan dan tikungan strategis di belakang panggung).
Atas pernyataan Nusron itu, Kaum Muslimin sebaiknya marah, bersabar, atau bersyukur Cak?
Itu hak setiap makhluk, tetapi benar tidaknya tindakan yang diambil selalu berposisi relatif. Nabi Ibrahim dibakar oleh Namrud, sejumlah Malaikat, lautan dan gunung marah dan menawarkan tindakan radikal. Tetapi Nabi Ibrahim memilih bersikap arif: “Kalau gagasan menghancurkan Istana Namrud itu perintah Allah, laksanakan. Tapi kalau itu gagasan kalian, mohon jangan lakukan”.
Orang Islam berhak menafsirkan nilai AlQur`an dan menyimpulkan bahwa atas hal itu mereka berada pada posisi wajib marah terhadap tamparan semacam itu. Yang yakin sedang dinista, berhak memanifestasikan pendapat dan sikapnya. Yang tidak merasa menista, juga berhak melaksanakan anggapannya.
Apakah itu berarti demokrasi membuka peluang demokratis untuk kemungkinan perbenturan?
Demokrasi bukan nilai tunggal kehidupan. Dalam kehidupan manusia ada dimensi nilai yang lain: moral, kasih sayang, pembelajaran terus menerus, kebutuhan terhadap keutuhan dan kesatuan. Juga ada yang bernama kearifan. Misalnya, ada kemungkinan di mana rasa marah diekspressikan dengan menahan diri dari atau terhadap amarah.
Apa pemikiran setingkat itu tidak terlalu ruwet untuk alam pikiran manusia di zaman ini?
Begini. Kalau pakai akal sehat, atas kasus peninstaan itu logisnya Allah dan Rasulullah Muhammad pun marah. Tetapi marah bisa diperlakukan misalnya sebagai metode sosial, semacam cara untuk mendidik, bukan terutama peristiwa pelampiasan mental. Rasulullah mendoakan cucu panglima pasukan yang memusuhinya agar memperoleh hidayah dari Allah. Maka kalau panglima musuh itu dibunuh, doa beliau tidak kabul, karena matinya dalam keadaan belum punya cucu. Allah juga tidak mengadzab kita semua dengan banjir besar seperti zaman Nabi Nuh, badai es seperti kepada kaum Nabi Hud atau gempa dahsyat untuk masyarakatnya Nabi Luth. Padahal tidak ada yang bisa memastikan apakah kegilaan dan kedhaliman manusia di zaman sekarang ini belum layak diadzab oleh Allah. Kita semua juga bisa belajar mengelola amarah, dengan menghitung hulu-hilirnya, ada sebab akibatnya, ada konteks dan nuansanya, ada taktik dan strategi, primer-sekundernya, kedalaman dan kedangkalannya, termasuk pengelolaan waktu: misalnya tergesa atau terukur iramanya.
Bagaimana dengan pernyataan bahwa hanya Allah yang mengerti AlQuran?
Allah bukan temannya setan. Artinya tidak mungkin melakukan sesuatu yang mubadzir. Kalau firman Allah tidak untuk dipahami oleh manusia, untuk apa Allah mewahyukannya. Allah simpan sendiri saja di Lauhil Mahfudh dan dibaca-baca sendiri. Kalau manusia yang ahsanu taqwim saja tidak mungkin mengerti Al-Quran, apalagi Malaikat atau Jin.
Jadi tegasnya, Quran diturunkan tidak untuk dimengerti oleh Allah sendiri?
Kan kata pertama: “Bacalah“. Artinya Allah sudah membekali manusia untuk punya kemampuan membaca. Bahwa ada tingkat membaca, tahu, paham, mengerti, bisa, mau, ikhlas dst — itu soal eskalasi kualitas. Dan di situ letak asyiknya kehidupan manusia.
Apakah ributnya Pilkada DKI ini termasuk disebabkan oleh tingkat-tingkat pemahaman itu?
Memang ada gradasi pemahaman dan pengertian. Al-Quran tidak sama dengan Tafsir Quran. Ayat Allah tidak sama dengan interpretasi kita atas ayat Allah. Ayat Allah itu mutlak kebenarannya, sedangkan tafsir kita relatif. Bukankah seluruh kehidupan kita ini juga relatif? Tetapi apakah karena relatif maka hidup ini kita stop saja, tidak kita pakai atau jalani? Negara, kebudayaan, nilai-nilai apapun saja yang kita bangun dan jalani ini pun relatif. Tapi harus kita jalani. Setiap tafsir punya hak hidup. Tafsir siapapun, dari sudut pandang, sisi pandang, resolusi pandang serta jarak pandang seberapapun, terus lakukan, hidupkan, laksanakan dan tegakkan.
Bagaimana kalau berbenturan Cak?
Bisa benturan, bisa berjodoh. Listrik bisa konslet, bisa menerbitkan bolam cahaya. Bergantung ilmu dan sistem pengelolaannya. Bermacam-macam tafsir dan ragam fenomena itu disebut “syu’uban wa qabail“, semua boleh dilaksanakan. Tuhan sangat membuka pintu demokrasi sejak awal: “faman sya`a falyu`min, wa man sya`a falyakfur”. Yang mau berpihak kepada-Nya, berpihaklah. Yang milih ingkar kepada-Nya, ingkarlah. Dengan sebab-akibat masing-masing.
Apakah itu berarti kita masih belum berhasil mengelola demokrasi?
Formula Allah untuk mengelola keragaman “syu’uban wa qabail” itu adalah “lita’arafu“: saling mengapresiasi, saling mengenali dan memberi empati, mencari titik kesepakatan melalui perundingan, penghormatan dan sanksi.
Memang ketentuan Allah atas kehidupan ini adalah prinsip “azwaj“, perjodohan. Positif-negatif, timur-barat, terang-gelap dst. Maka policy-nya adalah “lita’arafu” itu. Kehidupan akan menghasilkan benturan, permusuhan dan destruksi, kalau yang dilangsungkan bukan “lita’arafu” melainkan penjajahan, penguasaan, perampokan, kecurangan, tikam dari belakang, hipokrisi, kemunafikan.
Bagaimana kalau ada yang berpendapat bahwa Tuhan, Agama, Nabi dan Kitab Suci ternyata adalah sumber permusuhan?
Sebatang pisau bisa kita pakai menguliti mangga dan merajang bawang, atau untuk menikam orang yang kita benci. Jadi sumber destruksinya bukan pisau. Apapun saja bisa kita manipulasikan dan eksploitasi, kalau hilirnya adalah penguasaan atas orang lain serta perampokan atas milik orang lain itu.
Kita sedang mengalami kenyataan bahwa tafsir atas Kitab Suci menjadi pemantik pertengkaran. Apakah ada dimensi lain dari Al-Quran untuk menawar kenyataan itu Cak?
Ada. Allah merekomendasikan “tadabbur” untuk bersilaturahmi dengan Al-Quran. Banyak anjuran mentadabburi, bahkan tidak ada rekomendasi untuk menafsirkan. Tafsir diperlukan pada tahap dan konteks tertentu dalam proses tadabbur. Kalau Tafsir memerlukan persyaratan yang tidak awam, misalnya penguasaan Bahasa Arab Al-Quran, pengetahuan sejarah turunnya firman, kredibilitas ilmiah dan metodologis. Sedangkan Tadabbur bisa untuk awam: yang penting mencari dan mendapatkan kemashlahatan hidup dari persentuhannya dengan Al-Quran. Tadabbur itu sefamili kata dengan “dubur”, artinya tidak mengerti Quran tak apa, asal “keluaran” atau yang keluar dari “dubur” itu sehat bagi dirinya dan menyehatkan bagi sesamanya.
Paremeter tadabbur adalah goal kemashlahatan dan manfaat bersama. Mestinya ada disiplin semacam itu juga pada tafsir.
Bukankah tradisi tafsir yang melahirkan madzhab-madzhab, aliran-aliran paham, kemudian menjadi golongan-golongan, yang salah satu effek negatifnya dalam sejarah Islam adalah perselisihan, pertentangan, bahkan kebencian dan permusuhan?
Masalahnya kembali ke “lita’arafu” atau tidak. Sebenarnya itu problem universal yang dialami oleh semua manusia dalam sejarahnya. Makanya dulu ada “madzhab” besar Sosialisme dan Kapitalisme, Kanan dan Kiri, Barat dan Timur. Kemudian sampai ke variabel-variabel Liberalisme, Konservatisme, Radikalisme, dll, yang bahkan Ummat Islam dilabeli dan melabeli dirinya menjadi Islam Liberal, Islam Radikal dll. Bahkan ada NU Garis Lurus, NU Ahwa, NU Gusdurian dll. Semuanya kembali ke proses pencarian “lita’arafu“.
Bunyi ayam ditafsirkan sebagai “kukuruyuk” di Jawa, “kongkorongkong” di Sunda dan “kukurunuk” di Madura. Yang mutlak benar adalah kokok ayam itu sendiri. Dunia ribut atau tenang berbanding lurus dengan kadar kemampuan “lita’arafu” di antara ketiga penafsir kokok ayam. Ada sejumlah kelompok yang mungkin berpikir dia yang berkokok, kemudian semua yang mendengarkannya salah paham atau pahamnya salah terhadap suara kokoknya.
Apa pendapat Cak Nun sendiri tentang ayat 51 Surah Al-Maidah?
Pertama, tafsir dan pemahaman itu dinamis sejalan dengan proses pendewasaan dan pematangan manusinya.
Kedua, kalau Allah yang menginformasikan, saya langsung percaya dan mematuhinya tanpa menawar-nawar. Kalau ada yang belum saya pahami, yang saya salahkan adalah kebelum-matangan saya. Serta yakin ada rahasia Allah yang suatu hari kita semoga dihidayahi untuk mengetahuinya.
Ketiga, mungkin nilai keyahudian, kenasranian dan keislaman memproduksi suatu entitas atau satuan atau kekentalan nilai sedemikian rupa pada pemeluknya. Menjadi bersifat seperti kimia. Maka setiap formulasi hubungan antar manusia, termasuk dalam bernegara dan berpolitik — harus memperhatikan sifat-sifat, logika-logika atau hukum-hukum persenyawaan kimiawinya. Dan karena kasus formula persenyawaan pada komunitas manusia bisa berbeda-beda kadarnya, maka kimia DKI Jakarta bisa saja berbeda dengan kimia Papua atau Kalteng.
DKI Jakarta sedang memproses probabilitas-probabilitas kimiawinya. Perlu dipastikan bahwa hasilnya bukan racun yang merusak. Ibarat makanan, belum pernah terjadi sebanyak itu orang-orang muntah-muntah karena keracunan sebagaimana di DKI. Tentu yang kita tolong adalah orang-orang yang keracunan, bukan membela makanan beracun untuk terus disuguhkan.
Apakah Cak Nun punya pesan khusus tentang pemilukada DKI Jaya serta daerah-daerah lainnya?
Banyak sekali, tapi saya ambil satu saja. Di Al-Fatihah, Tuhan menyebut manusia dengan tiga kategori: 1- Yang diberi kenikmatan 2- Yang dimurkai 3- Yang sesat.
Mungkin kita sedang dipilah oleh proses zaman. Kata orang Jawa “gabah den interi“. Dan cara kita memahami harus dinamis. Yang diberi kenikmatan belum tentu yang sedang menguasai modal dan kekuasaan politik. Yang dimurkai belum tentu bukan saya dan kamu. Yang sesat mungkin semuanya. Sangat dinamis dan sangat lebar cakrawala kemungkinannya. Maka mental “lita’arafu” harus menjadi modal utama. Kalau ada yang curang, menikam dari belakang, memperdaya diam-diam, wajahnya bertopeng dst — mohon jangan mentang-mentang menguasai modal dan pegang lis kuda politik lantas merasa benar-benar berkuasa, sejajar dengan Tuhan.
Sampai di ranah itu, memang hanya Allah yang mengerti. Serta Ahok dan Nusron tentunya.
Kita kembali ke rumus dasar kehidupan menurut Allah: “Apa yang kau benci mungkin itu baik bagimu, dan apa yang kau cintai mungkin itu buruk bagimu“. Ayat ini “bergetar”, tidak berhenti di salah satu kutub. Sebagus apapun demokrasi sebagai nilai, tapi kalau dipakai untuk alat penguasaan dan penjajahan, batal kebaikannya. Lebih celaka dan bencana lagi ketika Demokrasi dipertentangkan atau dipolarisasikan dengan Islam secara kuantitatif, dan tidak mencari puzzling-nya, peluang harmoni dan kerjasama parsial maupun komprehensifnya dengan metoda “lita’arufu”. Orang Demokrasi secara ilmu boleh menemukan Islam sebagai bagian dari Demokrasi, sebagaimana orang Islam berhak menemukan Demokrasi sebagai bagian dari Islam pada konteks tertentu yang terukur.
Sumber: https://caknun.com/2016/bukan-demokrasi-benar-menusuk-kalbu/

Menemukan Ketepatan Arah dan Langkah

Tulisan ini sebagai bahan muhasabah, perenungan kita bersama untuk menemukan ketepatan arah dan langkah ke depan. Karena beberapa hari terakhir ini kami membaca bahwa ada potensi sakwasangka dan kecurigaan yang bakal dialamatkan kepada Maiyah. Atau lebih tepatnya Maiyah berpotensi untuk disalahpahami.
Yang Pertama, ketika Maiyah berupaya memperjuangkan keadilan, kesetaraan posisi dan proporsi bagi setiap anak bangsa dalam menikmati karunia bumi Indonesia dengan menyatakan bahwa Ummat Islam adalah mayoritas secara jumlah, tapi minoritas secara modal dan kekuasaaan, mereka mayoritas sebagai penduduk, tapi minoritas yang marginal secara politik dan perekonomian, justru Maiyah bisa dituduh sektarian. Kemudian ketika Maiyah mengungkapkan fakta bahwa ada semacam suatu mesin kekuasaan besar yang menimpakan ketidakadilan kepada Ummat Islam Indonesia, mereka dijadikan gelandangan di negerinya sendiri, Maiyah justru bisa dianggap berada dalam satu barisan dengan kelompok yang kerap menggunakan simbol-simbol Islam sebagai alat pembela kepentingan golongan/ pribadi.
Yang Kedua, ketika Maiyah menegur para pembela ummat dengan menyatakan bahwa hendaklah jangan sampai kebencian terhadap seseorang atau sekelompok orang menjadikan kita justru melanggar nilai-nilai keadilan, Maiyah bisa disangka hendak menggembosi perjuangan. Lebih lanjut ketika Maiyah menyebut bahwa musuh yang sesungguhnya bangsa Indonesia bukanlah Asing dan Aseng, melainkan keserakahan sistemik, kerakusan terorganisir yang bertahun-tahun bahkan berabad-abad menguasai bangsa Indonesia, Maiyah bisa dicurigai sedang berkoalisi dengan Asing dan Aseng untuk kepentingan tertentu.
Yang Ketiga, ketika Maiyah mengajak semua pihak yang sedang ditimpa ketidakadilan untuk duduk bersama, bermusyawarah dalam satu majelis permusyawaratan untuk lebih jernih membaca persoalan serta untuk bersama-sama merumuskan ketepatan arah dan strategi keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan, Maiyah bisa dicurigai sedang memainkan agenda politik tersembunyi.
Yang Keempat, ketika Maiyah memilih untuk tidak “melibatkan diri” di tengah konstelasi yang sedang berlangsung, dan masuk ke dalam medan dan dimensi perjuangan yang lain, Maiyah justru bisa dibilang tidak mempedulikan nasib bangsa.
Akhirnya, dengan tetap terus menerus bertafakkur, Maiyah tidak henti pula memohon hidayah dari Allah swt agar memperoleh ketepatan arah dan langkah dalam menjalani rakaat panjang perjuangan.
Sumber: https://caknun.com/2016/menemukan-ketepatan-arah-dan-langkah/
Yogyakarta, 6 Desember 2016
JAMAAH MAIYAH NUSANTARA

Jumat, 18 November 2016

MATIKAN HAMBA


MATIKAN HAMBA
Oleh: Muaman Asfia

Pendekkan usia hamba ya Allah
Jika yang hamba kelola dalam hidup ini
Adalah kecurangan-kecurangan kepada sesame

Padatkan usia hamba ya Allah
Jika yang hamba nikmati dalam batin ini
Kebencian terhadap saudara-saudara sendiri

Jangan biarkan hamba hidup
Dalam ketidakpasrahan kepadaMu

Tewaskan hamba ya Allah
Dalam kondisi sebagai penyaksi kebesaranMu
Karena akan sia-sialah hidup hamba
Kelau perbuatan hamba tidak selaras dengan ridhoMu

Tembaklah kepala hamba oleh peluru cintaMu
Biarlah kuserahkan pada Paduka
Tusuklah dada hamba dengan anak panah cahayaMu

Ikhlaskan hamba untuk itu ya Allah
Agar hamba tidak merasakan apa-apa selain Engkau

Bahayakan hamba oleh incaran mata-mataMu
Sehingga selalu merasa aman oleh dekapan lindunganMu
Sesudahnya khawatirkan hamba
Kalau tidak bisa mengamankan yang lainnya

Ambillah hambasebagai seorang yang akrab

Remukkan diri hamba
Jika kesombongan yang berlaku pada hamba
Bukan milik yang Engkau pinjami

Matikan hamba ya Allah
Matikan dalam usia muda sebagai yang muda
Kalau hidup hamba tidak bernilai dan menyemai mutu

Ikhlaskan hamba ya Allah
Ikhlaskan untuk itu.



Mandiraja, 10 Dzulhijjah/8 November 2011

Mukadimah Maiyah Kanoman Pemalang │26 November 2016




“Mentas”

Inti dari semua bahasa Nusantara adalah semantik. Adanya penghayatan estetik atas relasi antara manusia dan sesamanya serta alam. Orang Jawa tidak pernah belajar kalimat, melainkan kosakata. Dengan kosakata otomatis terbentuk dunia, karena kosakata diajarkan dengan rasa.
Model pendidikan diubah oleh kolonial menjadi klasikal seperti yang kita kenal sekarang sudah sejak pertengahan abad 19. Sejak saat itulah diajarkan tata bahasa struktural. Ada subjek, predikat, objek dan keterangan. Meski setiap daerah yang memiliki bahasa daerah tetap mengajarkan bahasanya, akan tetapi metodologi yang dipakai masih milik mereka, diadopsi. Di jawa, subjek menjadi jejer, predikat-waseso, objek-lisan, dan keterangan menjadi katerangan. Terjadi gradasi rasa. Tertanam mindset struktural, ada semacam pemahaman eksploitasi subjek atas objek.
Merupakan akibat atau bukan, hari ini banyak dan mungkin kebanyakan orang sudah berhenti penilaiannya pada sebatas gambar, bukan peristiwa. Padahal gambar sejatinya menunjukkan peristiwa. Berpikir sumbu pendek, Komunikasi urat leher, berkesimpulan asap, dan seterusnya dan seterusnya. Daya telusur hulu atas hilir yang lemah dengan jarak, cara, sudut dan resolusi pandang yang kurang tepat sehingga tumpul analisis dan pemahaman atas sesuatu tidak jangkep atau komprehensif.
Nabi Adam oleh Allah tidak pernah diajari nama-nama benda, melainkan peristiwa. Menjalani hidup adalah bertanggungjawab pada asal-usul dan jalan pulang, bahasa lainnya adalah menemukan Sang Pencipta. Dan sampai masa pra-Taurat, Allah tidak memberi panduan literer. Ada bekal teknologi internal untuk kepekaan menangkap hamparan ayat semesta dengan mengasah kecerdasan memaknai peristiwa.
Disinilah letak asyiknya hidup, salah satu sebabnya adalah adanya batas. Setiap orang berada pada tahapannya, pada laku dan lelakunya masing-masing. Batas anak kecil untuk segera mentas dari mandinya tidak sepenuhnya berdasar kedaulatan dan kemerdekaan bersikap seorang anak, melainkan adanya peran orang tua. Entah apapun alasannya, dalam hal ini orang tua memposisikan diri lebih tahu dari anaknya tentang apa yang terbaik untuk anaknya. Dalam kasus jemuran, - bisa pakaian, gabah, singkong, cengkeh dlsb - batas mentas dan ukuran untuk di-entas tidak selalu menandakan proses penjemuran sudah selesai, sebab akan turun hujan.
Sebagai orang jawa, mentas merupakan idiom yang sudah menjadi makanan sehari-hari yang lazim diucapkan orang tua kepada anak. Dalam bahasa pemerintah, kita biasa mendengar adanya program yang bertujuan untuk pengentasan kemiskinan, pengentasan buta aksara dlsb. Secara umum, meski tidak bisa dikatakan sebagai kesimpulan, mentas bisa juga diartikan menyudahi atau selesai.
Satu huruf saja, jika aksentuasinya kita rubah dari e menjadi é. Maka akan kita dapati kata yang sama sekali berbeda arti. Dari arti sebelumnya yang menunjukan menyudahi, kita dapatkan kata yang berarti penampilan-menampilkan-tampil. Modal untuk mentas (1) adalah pengetahuan tentang batas, baik itu batas yang sudah ditentukan, maupun batas yang disepakatkan.  Sedang modal untuk méntas (2) adalah karya yang di péntaskan. Dalam maiyah sendiri tidak ada pementasan. Kalaupun ada, yang ditampilkan dalam maiyahan pada prinsipnya adalah perayaan kegembiraan. Maiyah menghimpun perbedaan-perbedaan, kecenderungan-kecenderungan, bertadabbur bersama, dan mengelola arus positif dan negatif menjadi cahaya.
Untuk bisa mentas, sebab hidup itu putaran (cakra manggilingan; berputarnya roda kehidupan baik skala mikro maupun makro), perlu memahami peta kesadaran yang utuh atas keberadaan dan batasan diri. Untuk menjadi manusia saja – belum Abdullah-khalifatullah – kita perlu mentas dari kesadaran batu, kesadaran tumbuhan, kesadaran hewan, baru menjadi manusia.
Baik diperuntukkan méntas maupun tidak, seberapa perlukah mentas? Apalagi untuk méntas, apakah tidak menjadi masalah atau bahkan sudah menjadi kewajaran tidak mempersyarati mentas? Sedangkan manusia terikat batas.

#redMKP #MKPNov